Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Rama Prabu, izinkan hamba memimpin peperangan ini."
Prabu Matsapati mengembuskan napas panjang. Sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Andai Kencaka, Rupakenca, dan Rajamala masih hidup, aku tak perlu membebankan peperangan ini kepada kalian. Adik-adikku telah gugur, dan para senopati terbaik Wirata pun telah tiada."
Sesaat kemudian, pandangannya beralih kepada ketiga putranya.
"Seta dan Wiratsangka, hadang pasukan Trigarta di garis depan. Utara, engkau menjaga gerbang belakang. Pasukan Astina pasti datang dari arah itu."
Ketiganya segera menyembah.
"Dawuh, Rama Prabu."
Tak lama berselang, genderang perang pun ditabuh. Pasukan Trigarta menggulung perbatasan Wirata, sementara dari arah belakang panji-panji Astina mulai memenuhi cakrawala. Negeri Wirata kini terkepung dari dua penjuru.
Di tengah hiruk-pikuk pertempuran, Prabu Susarma berhasil menerobos barisan pertahanan hingga berhadapan langsung dengan Prabu Matsapati.
"Hahaha... akhirnya kita bertemu lagi, Matsapati!"
Matsapati menghunus pedangnya sambil menatap tajam lawannya.
"Susarma! Jadi benar, serangan ini bukan demi rakyatmu, melainkan demi melampiaskan dendammu."
Susarma tertawa lantang.
"Dendam? Benar! Engkau telah mempermalukanku ketika menolak lamaranku kepada Dewi Utari."
Dengan suara tenang namun tegas, Matsapati menjawab,
"Aku menolak bukan untuk menghina, melainkan karena putriku bukan hadiah perang. Seorang ayah berhak menentukan masa depan anaknya."
"Itu hanya alasan!" bentak Susarma.
"Bukan alasan. Aku mengenal watakmu. Engkau haus akan kekuasaan. Putriku tidak pantas hidup bersama seorang raja yang menjadikan perempuan sebagai alat politik."
Ucapan itu membuat wajah Susarma memerah karena murka. Urat-urat di lehernya menegang, sementara genggaman tangannya pada senjata semakin kuat.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani