Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Setelah Prabu Susarma roboh tak bernyawa, medan perang di garis depan perlahan dikuasai pasukan Wirata. Namun, Prabu Matsapati belum juga merasa lega. Pandangannya justru tertuju ke arah utara, tempat pasukan Astina bergerak mendekat.
Wajah sang raja kembali muram.
"Balawa," ucapnya lirih, "pertempuran ini belum berakhir. Susarma memang telah gugur, tetapi di belakang sana masih berdiri bala Astina yang dipimpin para kesatria agung."
Matsapati kemudian menoleh kepada para pembesar kerajaan. Kecemasan jelas tergambar di wajahnya.
"Aku mengkhawatirkan Utara. Mampukah anak itu menahan serangan Astina? Di pihak mereka ada Resi Bisma, Begawan Durna, dan Raja Awangga yang termasyhur akan kesaktiannya. Utara masih muda dan belum banyak merasakan perang sebesar ini."
Suaranya bergetar, mencerminkan kegelisahan seorang ayah sekaligus seorang raja.
Dwijakangka, penasihat sepuh Kerajaan Wirata, melangkah maju sambil menangkupkan tangan.
"Paduka, jangan dikuasai rasa cemas. Seorang pangeran tidak akan pernah menjadi kesatria besar jika terus berada dalam lindungan. Percayakanlah garis pertahanan kepada Raden Utara. Hyang Wenang kerap menghadirkan pertolongan melalui jalan yang tidak pernah diduga manusia."
Prabu Matsapati mengembuskan napas panjang.
"Sebelum perang pecah, aku telah memerintahkan Utara membawa adiknya, Dewi Utari, ke tempat yang aman. Aku khawatir musuh berhasil menerobos istana. Utari adalah anak bungsuku, dan aku tidak ingin nasibnya berakhir sebagai tawanan perang."
Dwijakangka menganggukkan kepala.
"Paduka telah mengambil keputusan yang bijaksana. Menyelamatkan keluarga kerajaan merupakan bagian dari menjaga kehormatan negeri."
Wejangan itu sedikit menenangkan hati Prabu Matsapati, meski kegelisahannya belum sepenuhnya sirna. Ia menatap langit yang mulai diselimuti asap peperangan.
"Semoga Utara mampu mempertahankan Wirata dan melindungi Utari," gumamnya lirih.
Pada saat yang sama, dari kejauhan terdengar suara sangkakala pasukan Astina yang kian mendekat. Pertempuran melawan Trigarta memang telah usai, tetapi ujian yang sesungguhnya bagi Raden Utara baru saja dimulai.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani