Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Kebangkitan Jiwa Satria Raden Utara 2: Menantang Ketakutan, Menguji Keberanian

Ki Damar • Kamis, 16 Juli 2026 | 18:33 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Raden Utara
Ilustrasi tokoh wayang Raden Utara

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

"Lalu siapa?" tanya Dewi Utari.

Utara menarik napas panjang sebelum menjawab.

"Di sana ada Begawan Durna."

Sesaat kemudian ia kembali berkata dengan suara berat.

"Ada Resi Bisma."

Kepalanya tertunduk semakin dalam.

"Dan ada Raja Awangga Narapati Basukarna yang kesaktiannya telah termasyhur."

Dewi Utari menatap kakaknya tanpa berkedip.

"Jadi, hanya karena mereka sakti, Kakangmas memilih meninggalkan rakyat?"

Ucapan itu membuat Utara tersinggung.

"Utari! Engkau tidak mengerti perang."

Namun, Dewi Utari tetap menjawab dengan tegas.

"Yang aku mengerti hanya satu. Seorang putra raja tidak boleh meninggalkan negerinya ketika rakyat sedang membutuhkan."

Baca Juga: Dindik Pacitan Kaji Regrouping 16 SD Negeri Akibat Penurunan Jumlah Siswa

Utara menggeleng pelan.

"Keberanian tanpa kemenangan hanyalah bunuh diri."

Sejak tadi hanya terdiam, Wrehatnala akhirnya melangkah mendekat.

"Raden Utara..."

Utara menoleh sekilas.

"Ada apa, Wrehatnala?"

Dengan suara lembut, Wrehatnala berkata,

"Kadang seorang kesatria memang boleh merasa takut."

Utara mengangguk cepat.

"Nah, akhirnya ada yang mengerti."

Wrehatnala melanjutkan ucapannya.

"Tetapi... seorang kesatria tidak boleh dikuasai oleh rasa takut."

Utara tersenyum sinis.

"Wrehatnala... engkau hanya seorang wandu yang setiap hari mengajarkan tari. Apa yang kauketahui tentang medan perang?"

Suasana mendadak hening. Para dayang saling berpandangan, seolah menanti bagaimana Wrehatnala akan menanggapi ucapan itu.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
raden utara wrehatnala cerpen wayang