Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Namun, Wrehatnala tetap tersenyum. "Benar. Aku memang hanya seorang wandu."
Utara segera menyela. "Kalau begitu, jangan mengajariku menjadi kesatria."
Wrehatnala sama sekali tidak tersinggung.
"Ilmu tidak selalu datang dari orang yang memegang pedang, Raden."
Utara tertawa kecil. "Apakah seorang guru tari kini hendak mengajari putra raja tentang perang?"
Wrehatnala melangkah semakin dekat.
"Dahulu aku pernah mengabdi kepada seorang kesatria agung."
Perhatian Utara mulai tertuju kepadanya.
"Siapa?"
"Raden Arjuna."
Nama itu membuat seluruh penghuni keputren terdiam. Seakan-akan waktu berhenti sesaat.
Wrehatnala kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku pernah menjadi pelayannya. Aku melihat sendiri bagaimana beliau berlatih, berpikir, dan menghadapi peperangan. Dari beliau aku belajar bahwa kemenangan bukanlah milik orang yang paling kuat, melainkan milik mereka yang berani mengalahkan rasa takutnya sendiri."
Baca Juga: BYD Haka Madiun Resmi Hadir Mobilitas Masa Depan Dimulai
Namun, Utara masih belum puas.
"Hanya karena pernah melayani Arjuna, engkau merasa pantas menasihatiku?"
Wrehatnala menjawab dengan tenang.
"Bukan karena aku pernah melayani beliau, tetapi karena aku mendengarkan setiap wejangan beliau dengan hati."
Utara kembali bertanya dengan suara keras. "Lalu menurutmu, apa arti seorang kesatria?"
Wrehatnala menatap lurus ke mata sang pangeran.
"Seorang kesatria bukanlah orang yang tidak pernah merasa takut."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani