Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Dalam hati, Arjuna berbisik lirih.
"Sedikit lagi, wahai saudara-saudaraku. Masa penyamaran hampir berakhir. Hari ini aku belum boleh membuka jati diriku. Namun, bila dharma memanggil, busur Gandewa akan kembali berbicara pada waktunya."
Tak lama kemudian, kereta pusaka Garuda Yaksa meluncur meninggalkan keputren.
Di atasnya berdiri Raden Utara dengan tekad yang mulai bangkit, sementara di depan kereta, Wrehatnala menggenggam erat tali kekang dengan senyum tipis.
Tak seorang pun menyangka bahwa kusir yang tampak lembut itu sesungguhnya adalah Arjuna, pemanah terbesar di jagat Bharata, yang sebentar lagi akan mengubah jalannya sejarah.
Suara roda Garuda Yaksa bergemuruh membelah bumi. Derap empat ekor kuda pilihan Kerajaan Wirata mengguncang jalanan istana, sementara panji-panji kerajaan berkibar megah diterpa angin.
Garuda Yaksa bukanlah kereta biasa. Sejak masa para leluhur Wirata, kereta pusaka itu menjadi lambang kemenangan.
Konon, setiap kesatria yang menaikinya dengan hati yang bersih akan memperoleh keteguhan jiwa dan hampir tak pernah pulang membawa kekalahan.
Mendengar gemuruh roda kereta itu, Resi Bisma segera mengangkat tangannya.
"Berhenti! Dengarkan suara itu!"
Begawan Durna memejamkan mata sejenak sebelum berkata, "Itu... Garuda Yaksa, kereta pusaka Wirata."
Basukarna, Raja Awangga, menggenggam busurnya semakin erat.
"Jika kereta itu telah keluar, berarti putra mahkota Wirata sendiri telah turun ke medan perang. Bersiaplah. Jangan pernah meremehkan kesatria yang menaiki kereta pusaka."
Baca Juga: Arsenal Terus Pantau Alvarez, Meski Sang Pemain Lebih Pilih Barcelona
Di atas Garuda Yaksa, Raden Utara berdiri tegak dengan busur di tangannya, sementara Wrehatnala tetap menggenggam tali kekang dengan wajah tenang.
Dari kejauhan, seluruh pasukan Astina mengalihkan pandangan kepada mereka.
Resi Bisma berbisik lirih.
"Aneh... mengapa hati ini merasakan firasat yang berbeda?"
Begawan Durna mengangguk pelan.
"Di balik kereta itu seolah tersimpan rahasia besar yang belum waktunya terbuka."
Wrehatnala hanya menundukkan kepala sambil membatin.
"Saatnya telah semakin dekat. Hari ini aku masih bernama Wrehatnala. Namun, bila dharma memanggil, dunia akan kembali mengenalku sebagai Arjuna."
Gemuruh roda Garuda Yaksa terus melaju menuju medan laga, mengawali babak baru yang kelak mengubah arah sejarah Bharatayudha.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani