Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Garuda Yeksa 1: Keberanian Raden Utara Diuji di Kurusetra

Ki Damar • Jumat, 17 Juli 2026 | 17:04 WIB
Ilustrasi kereta kencana Garuda Yeksa dalam cerita wayang. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi kereta kencana Garuda Yeksa dalam cerita wayang. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Kereta pusaka Garuda Yeksa melesat membelah debu peperangan. Empat ekor kuda putih berlari gagah, sementara Wrehatnala duduk di depan sambil menggenggam tali kekang dengan tenang.

Di belakangnya, Raden Utara berdiri tegak membawa busur dan panah kebesaran Wirata. 

Dari kejauhan, suara genderang perang pasukan Kurawa menggema bagaikan halilintar yang tak kunjung berhenti.

Semakin dekat memasuki Kurusetra, wajah Raden Utara yang semula dipenuhi keberanian perlahan berubah pucat.

Hamparan pasukan Astina membentang bagai lautan manusia tanpa tepi.

Ribuan tombak berkilauan diterpa cahaya matahari, puluhan gajah perang berdiri kokoh, sementara panji-panji para mahasenapati berkibar memenuhi angkasa.

Napas Utara mulai memburu.

"W... Wrehatnala..."

Wrehatnala menoleh perlahan.

"Ada apakah, Raden?"

Utara mengangkat tangan yang gemetar, lalu menunjuk ke arah depan.

"Belum pernah aku melihat pasukan sebanyak ini...."

Baca Juga: Cerpen Wayang Kebangkitan Jiwa Satria Raden Utara 1: Ketika Pasukan Astina Mengepung Wirata

Keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Tanpa disadari, kedua kaki Raden Utara bergetar hebat. Tangan yang menggenggam busur pun ikut bergetar hingga beberapa anak panah terjatuh ke lantai kereta.

Wrehatnala memandang sang pangeran sejenak. Kemudian ia mengulurkan tangan dan menggenggam lengan Raden Utara.

"Tenangkan hati Paduka."

Aneh. Begitu tangan Wrehatnala menyentuh tubuhnya, getaran di kaki Utara perlahan menghilang. Sesak yang memenuhi dadanya pun berangsur terasa ringan.

Utara menatap Wrehatnala dengan penuh keheranan.

"Mengapa... rasa takutku tiba-tiba berkurang?"

Wrehatnala hanya tersenyum.

"Karena keberanian sering kali lahir dari ketenangan."

Raden Utara kembali memandang lautan pasukan Astina. Kini napasnya mulai lebih teratur, meski bayangan dahsyatnya medan perang di hadapannya masih memenuhi pandangannya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
raden utara wrehatnala garuda yeksa cerpen wayang