Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Raden Utara kembali menatap hamparan pasukan Astina yang memenuhi cakrawala. Satu per satu panji para mahasenapati berkibar tertiup angin, masing-masing menjadi lambang kekuatan yang melegenda.
"Wrehatnala... siapakah kesatria yang membawa panji bergambar matahari itu?"
Wrehatnala mengikuti arah telunjuk sang pangeran.
"Itu Raja Awangga, Narapati Basukarna. Seorang pemanah besar yang kesaktiannya disegani banyak raja."
Utara mengalihkan pandangannya ke panji lain yang berkibar megah.
"Kalau yang panjinya bergambar ombak?"
"Itulah Resi Bisma."
Utara menelan ludah. Rasa gentarnya semakin sulit disembunyikan.
"Yang bergambar kepala gajah?"
"Itu panji Kerajaan Astina."
Belum sempat menenangkan diri, Utara kembali bertanya.
"Lalu panji bergambar anak panah?"
Baca Juga: Cerpen Wayang Kebangkitan Jiwa Satria Raden Utara 1: Ketika Pasukan Astina Mengepung Wirata
"Itu milik Begawan Durna, guru para kesatria Bharata."
Raden Utara menarik napas panjang. Matanya terus menyapu barisan pasukan yang seolah tak berujung.
"Dan yang bergambar mata dadu?"
Wrehatnala menjawab singkat, tetapi suaranya tetap tenang.
"Itulah panji Patih Sengkuni. Jangan remehkan dia. Senjatanya bukan hanya tombak, tetapi juga tipu daya."
Semakin banyak nama yang disebut Wrehatnala, semakin pucat wajah Raden Utara. Para tokoh yang selama ini hanya didengarnya dalam cerita kini berdiri nyata di hadapannya.
"Jadi... semua orang hebat itu berada di hadapanku?"
"Benar."
Utara menggeleng pelan.
"Bagaimana mungkin aku mampu menghadapi mereka?"
Wrehatnala menatap lurus ke depan sebelum menjawab dengan tenang.
"Paduka tidak perlu mengalahkan semuanya hari ini."
"Lalu?"
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani