Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Hahaha... Paman Patih, beginikah putra Wirata? Baru melihat hujan panah sudah berlari seperti kijang dikejar harimau. Kalau semua kesatria Wirata seperti itu, Bharatayudha tidak perlu digelar. Cukup kirimkan beberapa anak panah, mereka akan lari sendiri!"
Dursasana tertawa puas. Baginya, pelarian Raden Utara menjadi pertanda bahwa kemenangan Astina sudah di depan mata.
Namun, Patih Sengkuni hanya membalas dengan senyum tipis.
"Jangan terlalu cepat bergembira, Dursasana. Dalam peperangan, sesuatu yang tampak lucu kadang justru menyimpan rahasia yang berbahaya."
Mendengar ucapan itu, Dursasana yang sejak kecil selalu mengikuti langkah pamannya segera merapat ke sisinya.
"Menurut Paman, apakah mereka akan kembali?" tanyanya penuh rasa ingin tahu.
Sengkuni mengusap janggutnya sambil menatap lekat ke arah rimbunnya hutan.
Baca Juga: Guru SD di Pacitan Diamankan Polisi dalam Dugaan Kasus Narkotika
"Kemungkinan itu ada. Kereta Garuda Yaksa bukan kereta sembarangan. Aku mencium ada sesuatu yang sedang disembunyikan Wirata. Jangan lengah hanya karena melihat Putra Wirata, Raden Utara, melarikan diri. Justru ketika musuh tampak lemah, kita harus semakin waspada."
Sesaat kemudian, Sengkuni mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.
"Prajurit Astina, dengarkan perintahku! Kepung seluruh pinggir hutan itu. Jangan seorang pun keluar tanpa pengawasan. Bila Kereta Garuda Yaksa muncul kembali dari balik pepohonan, hujani dengan panah dan sirnakan seketika! Jangan beri kesempatan mereka mendekati barisan kita!"
Seluruh prajurit menjawab serempak,
"Dawuh, Patih!"
Dursasana tetap berdiri di sisi pamannya dengan senyum penuh keyakinan. Mereka mengira mangsanya telah benar-benar terperangkap.
Namun, baik Sengkuni maupun Dursasana belum mengetahui bahwa di balik rimbunnya hutan, Wrehatnala tengah membangkitkan kembali keberanian Raden Utara. Di sanalah, rahasia terbesar Pandawa perlahan menanti saatnya untuk tersingkap.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani