Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Wrehatnala menggeleng perlahan.
"Rambut hanya sehelai, Raden. Ia akan tumbuh kembali. Tetapi bila keberanian seorang kesatria tercabut, tidak ada mahkota yang mampu mengembalikannya."
Utara menggertakkan giginya.
"Engkau tidak tahu apa yang kulihat di medan perang! Di sana ada Resi Bisma, Begawan Durna, Raja Awanggabasukarna, Dursasana, Sengkuni, dan ribuan prajurit Astina. Apa salahnya bila aku menyelamatkan diri?"
Wrehatnala menjawab dengan suara tenang.
"Tidak salah menyelamatkan nyawa. Yang salah adalah meninggalkan kewajiban."
Utara memalingkan wajah.
"Aku ini hanya manusia."
Baca Juga: KDKMP Pengkol dan Bringin Ponorogo Berdekatan, Dandim Pastikan Tak Saling Bersaing
"Benar," jawab Wrehatnala lembut.
"Aku takut."
Untuk pertama kalinya, Raden Utara menatap mata Wrehatnala dengan kejujuran yang tak lagi disembunyikan.
"Itu juga benar."
"Lalu mengapa aku dipaksa menjadi pemberani?"
Wrehatnala melangkah mendekat.
"Karena Paduka bukan rakyat biasa."
Utara menatapnya tanpa berkedip.
"Paduka adalah putra seorang raja. Anak seorang penguasa tidak diukur dari seberapa kuat lengannya, melainkan dari seberapa besar jiwanya. Negeri tidak membutuhkan pemimpin yang tidak pernah takut. Negeri membutuhkan pemimpin yang tetap mampu berdiri meski rasa takut mencengkeram dadanya."
Kata-kata itu menghunjam jauh ke dalam hati Utara. Beberapa saat kemudian, ia mengembuskan napas panjang.
"Wrehatnala... aku tidak akan berbohong lagi."
Sekali lagi Utara menatap Wrehatnala. Kali ini sorot matanya dipenuhi harapan agar semua ini segera berakhir.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani