Cerpen Wayang Wrehatnala Tantang Raden Utara 4: Rahasia dari Masa Lalu

Ki Damar • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 18:55 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Kedi Wrehatnala.
Ilustrasi tokoh wayang Kedi Wrehatnala.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

"Lalu mengapa Paduka meragukan seseorang hanya karena ia seorang wandu?"

Utara tidak mampu menjawab.

Wrehatnala kembali berkata,

"Jangan memandang kulit seseorang. Lihatlah keberanian dan ilmunya."

Utara masih menggeleng.

"Bagaimana mungkin aku mempercayakan nasib Wirata kepada seorang guru tari?"

Wrehatnala tersenyum penuh keyakinan.

"Karena hamba tidak berbicara tanpa dasar," tegasnya.

"Maksudmu?"

Baca Juga: Sensus Ekonomi 2026 Ponorogo Tembus 254 Ribu Responden, Lampaui Target Nasional

Utara menatap Wrehatnala dengan tajam.

"Hamba pernah mengabdi kepada seorang kesatria terbesar di Bharata."

"Raden Arjuna?"

Nama itulah yang langsung terlintas dalam benak Utara ketika mendengar sosok kesatria terbesar.

"Benar," jawab Wrehatnala sambil tersenyum.

"Hamba menyaksikan bagaimana beliau memimpin peperangan, mengendalikan kereta, dan membaca siasat musuh. Sedikit ilmu yang hamba peroleh darinya sudah cukup untuk menghadapi keadaan hari ini."

Utara mulai memandang Wrehatnala dengan cara yang berbeda.

"Aku masih ragu."

"Itu wajar."

Baca Juga: 15 Orang Ditangkap, Begini Kronologi Kerusuhan Suporter Argentina usai Kalah dari Spanyol

"Kalau engkau kalah?"

"Maka hamba yang akan menanggung akibatnya."

"Kalau engkau menang?"

"Wirata yang akan memperoleh kehormatannya."

Jawaban itu membuat hati Utara luluh.

Ia menundukkan kepala.

"Baiklah, Wrehatnala."

Wrehatnala membungkuk hormat.

"Mulai saat ini, hamba menjadi senopati, dan Paduka menjadi kusir."

Namun ketika keduanya hendak kembali menuju Garuda Yaksa, Wrehatnala mengangkat tangannya, seolah memberi isyarat agar Utara menunggu sejenak.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
wrehatnala kurawa cerpen arjuna wayang