
Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Kakang Prabu Kresna, bagiku tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Astina tetap milikku. Aku tidak akan menyerahkan sejengkal tanah pun kepada Pandhawa."
Sri Kresna hanya tersenyum tipis.
"Prabu, yang kuminta bukanlah milikmu. Yang kuminta adalah hak mereka. Seorang raja akan dikenang bukan karena luas wilayah yang dikuasainya, melainkan karena keteguhannya memegang janji."
Duryudana menggeleng keras.
"Janji itu telah mati."
Sri Kresna melangkah satu langkah lebih dekat.
"Duryudana, kemenangan yang diperoleh dengan mengingkari janji tidak akan bertahan lama. Keserakahan hanya akan melahirkan air mata. Masih ada waktu. Jangan wariskan peperangan kepada generasi setelahmu."
Baca Juga: Kuota SD Belum Penuh, Dinsos Kabupaten Madiun Terus Jangkau Calon Siswa Sekolah Rakyat
Duryudana tertawa sinis.
"Engkau datang untuk mengajariku memimpin kerajaan? Kresna, Astina tidak membutuhkan nasihatmu."
Panembahan Bisma akhirnya bangkit dari tempat duduknya.
"Cucuku Duryudana, dengarkanlah Kresna. Aku mengenal beliau. Beliau adalah titisan Hyang Wisnu, pembawa kebajikan dan pemelihara kehidupan. Jika nasihat seorang dewa saja tidak kauhiraukan, lalu kepada siapa lagi engkau akan menjadikan panutan? Beliau datang membawa perdamaian."
Begawan Durna turut angkat bicara.
"Perang hanya akan menelan ribuan nyawa. Jika masih dapat dihindari, mengapa harus dipilih?"
Namun Patih Sengkuni segera memotong ucapan itu.
"Panembahan, Begawan, Paduka berdua terlalu lunak. Jika hari ini Astina dibagi, besok kerajaan-kerajaan lain akan menuntut hal yang sama."
Basukarna menganggukkan kepala.
"Astina harus tetap utuh."
Sri Kresna memandang Sengkuni dan Basukarna dengan tatapan tenang.
"Keutuhan sebuah negara tidak ditentukan oleh luas wilayahnya. Keutuhan lahir dari kepercayaan rakyat kepada rajanya. Apabila janji diinjak-injak, yang retak bukanlah wilayah kerajaan, melainkan kepercayaan rakyat."
Mendengar ucapan itu, Duryudana menghentakkan gadanya ke lantai hingga menggema ke seluruh Balairung Agung.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani