Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Cukup! Aku tidak akan mengubah keputusanku."
Sri Kresna menarik napas panjang, lalu berkata dengan tenang. "Kalau begitu, Pandhawa bersedia menerima lima desa saja. Tidak lebih. Paduka tetap menjadi Raja Astina. Biarkan mereka hidup sebagai saudaramu."
Belum sempat Sri Kresna menyelesaikan ucapannya, Duryudana langsung membentak.
"Lima desa? Seujung jarum pun tidak akan kuberikan! Itulah keputusan terakhirku."
Resi Bisma menundukkan kepala dengan wajah penuh duka.
Sri Kresna memejamkan mata sejenak.
"Prabu, aku telah datang membawa jalan damai. Namun, engkaulah yang menutup pintunya."
Mendengar ucapan itu, Duryudana segera menoleh kepada Dursasana.
"Tangkap Kresna! Jangan biarkan ia kembali kepada Pandhawa!"
Baca Juga: Antisipasi Aksi Copet, Pengajian Gus Iqdam di Pacitan Dijaga 400 Personel
Puluhan prajurit segera mengepung Sri Kresna dari segala penjuru. Dursasana, para pangeran Kurawa, bahkan sejumlah kesatria turut mengangkat senjata, mengurung Sang Duta Perdamaian.
Sri Kresna hanya tersenyum tenang.
"Kalian hendak menangkapku? Apakah kalian mengira tubuh ini hanyalah tubuh seorang manusia?"
Perlahan, cahaya memancar dari tubuhnya. Semakin lama semakin terang hingga memenuhi Balairung Agung. Bangunan istana berguncang hebat.
Tubuh Sri Kresna menjulang tinggi seolah memenuhi langit-langit istana. Dari wajahnya memancar ribuan cahaya, sementara kedua matanya bersinar laksana matahari dan bulan.
Para prajurit gemetar ketakutan. Sebagian menjatuhkan senjata, sementara yang lain tersungkur sambil menutupi wajah.
Dalam wujud agungnya, suara Sri Kresna menggema ke seluruh Astina.
"Wahai Duryudana! Aku telah datang membawa perdamaian, tetapi engkau memilih kesombongan. Ketahuilah, perang yang akan datang bukan lagi dapat dihentikan oleh manusia. Mulai hari ini roda takdir telah berputar. Bharatayudha akan menjadi penentu siapa yang berdiri di pihak dharma dan siapa yang binasa karena angkara."
Baca Juga: BMKG Peringatkan Kemarau Kering, DPRKP Ngawi Siagakan 138 Pamsimas Hadapi Krisis Air
Perlahan cahaya itu menghilang. Sri Kresna kembali berdiri seperti sediakala.
Seluruh penghuni pendapa masih membisu dalam ketakutan. Hanya Resi Bisma dan Begawan Durna yang menundukkan kepala penuh hormat.
Sementara itu, Duryudana tetap menggenggam gadanya dengan rahang mengeras. Walaupun telah menyaksikan kemahakuasaan Sri Kresna, hatinya tetap tidak berubah.
Sejak saat itu, harapan akan perdamaian benar-benar sirna. Takdir telah menetapkan jalannya, dan Perang Bharatayudha kini tinggal menunggu waktu untuk berkobar.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani