Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Sementara itu, Widura memandang kakak iparnya dengan penuh iba. Ia tahu, luka terdalam seorang ibu bukanlah kehilangan harta atau kedudukan, melainkan menyaksikan anak-anaknya berdiri di dua pihak yang saling berhadapan.
Tak ada seorang ibu pun yang sanggup menerima kenyataan seperti itu dengan mudah.
Pendapa kembali sunyi. Dewi Kunti masih menundukkan kepala sambil mengusap air matanya.
Widura perlahan mendekat, kemudian duduk di samping kakak iparnya. Ia membiarkan beberapa saat berlalu sebelum akhirnya membuka suara.
“Kakang Mbok Dewi, jangan biarkan kesedihan mengalahkan keteguhan hati paduka. Kita hanya mampu berikhtiar. Sedangkan takdir tetap berada di tangan para dewa,” ujar Widura dengan lembut.
Kunti mengangguk perlahan, meski dadanya masih terasa sesak. Kesedihan sebagai seorang ibu belum juga mereda. Widura kembali menasihatinya dengan suara yang tenang.
“Paduka adalah ibu para Pandhawa. Mereka akan menghadapi perang terbesar dalam hidup mereka. Jangan biarkan mereka berangkat tanpa doa seorang ibu. Restu paduka adalah kekuatan yang tidak dimiliki oleh senjata apa pun.”
Kunti memejamkan mata. Kata-kata Widura perlahan menyentuh kesadarannya. Betapapun berat hatinya, ia tidak boleh membiarkan kesedihan membuatnya lupa pada kewajibannya sebagai seorang ibu.
Baca Juga: Kemarau Panjang Ancam Kota Madiun, BPBD Siapkan Dua Tangki Antisipasi Kekeringan
“Aku mengerti, Widura. Tetapi hatiku tetaplah hati seorang ibu,” jawab Kunti lirih.
Sri Kresna kemudian memberi sembah kepada bibinya.
“Bibi, yayi prabu Puntadewa berpesan agar paduka kembali ke Wirata. Ia berkata, berhasil ataupun tidak aku menjalankan tugas sebagai duta, Ibu harus berada di sisi Pandhawa. Sebab, selama Ibu bersama mereka, hati mereka akan tetap damai,” tutur Sri Kresna.
Kunti menatap wajah keponakannya dengan mata berkaca-kaca. Perlahan, kesedihan di wajahnya bercampur dengan kerinduan kepada putra-putranya.
“Anak-anakku... mereka masih sangat membutuhkan ibunya,” ucap Kunti.
Widura tersenyum tipis. Ia tahu, keputusan Kunti telah bulat.
“Pergilah, Kakang Mbok. Temanilah putra-putramu. Biarlah aku tetap berada di Astina. Selama aku masih di sini, aku akan terus mengingatkan Drestarastra dan Kurawa agar tidak melupakan dharma, meskipun mungkin nasihatku tak lagi didengar,” tutur Widura.
Kunti menggenggam tangan Widura erat. Tatapan keduanya bertemu dalam keheningan. Ada perpisahan yang tidak perlu diucapkan dengan banyak kata.
“Terima kasih, Adikku,” ucap Kunti penuh haru.
Kunti kemudian berdiri. Ia memandang halaman Panggombakan untuk terakhir kalinya. Tempat itu telah menjadi saksi kesedihan, harapan, dan kabar pahit yang baru saja diterimanya. Kini, saatnya ia kembali kepada putra-putranya.
“Aku akan kembali. Bukan sebagai seorang permaisuri, melainkan sebagai seorang ibu. Semoga masih ada jalan agar anak-anakku tidak saling menghabisi,” ujar Kunti dengan suara penuh keteguhan.
Sri Kresna memandang bibinya dalam diam. Di hadapannya berdiri seorang ibu yang telah memilih untuk meninggalkan segala kepedihan demi memberikan kekuatan terakhir kepada anak-anaknya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani