Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Mengenal Resi Abiyasa, Tokoh Wayang di Balik Kitab Mahabharata yang Legendaris

Ki Damar • Kamis, 6 Maret 2025 | 01:15 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Resi Abiyasa
Ilustrasi tokoh wayang Resi Abiyasa

Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*

RESI Abiyasa, yang dikenal dengan nama Resi Wiyasa atau Kresnadipayana, adalah putra Resi Palasara dari Pertapaan Retawu dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Basuketi.

Sebagai seorang pandita agung, Abiyasa memiliki sifat dan perwatakan pandai, cerdas, arif bijaksana, alim, saleh, berwibawa, serta memiliki kesaktian yang linuwih.

Ia juga dikenal sebagai seorang ahli tapa, ahli nujum, serta ahli dalam ilmu pengobatan.

Dalam berbagai pagelaran wayang, Abiyasa kerap berperan sebagai motivator dan penasehat, baik bagi Arjuna maupun Abimanyu.

Terutama ketika mereka menghadapi berbagai permasalahan hidup.

Setiap kata-katanya selalu terbukti kebenarannya, seolah-olah memiliki kekuatan magis yang mampu menentukan nasib seseorang.

Setelah menobatkan Prabu Pandu sebagai raja Astina, Abiyasa kembali ke Pertapaan Retawu, meninggalkan urusan duniawi untuk menjalani kehidupan sebagai seorang brahmana sejati.

Selain dikenal sebagai seorang resi, Abiyasa juga merupakan pujangga besar.

Ia adalah penulis kitab Mahabharata, yang terdiri dari seratus ribu (100.000) seloka, terbagi dalam delapan belas (18) Parwa.

Karya besar ini menceritakan kisah kepahlawanan Pandawa dan Kurawa, serta mengandung berbagai ajaran kebajikan yang diwariskan kepada umat manusia.

Baca Juga: Lakon Wayang Rama Tundhung Bagian 1, Awal Peristiwa Besar yang Mengguncang Ayodya

Ia mewarisi ilmu kepanditaan, ilmu pengobatan, serta kesakralan ilmu dan tanda-tanda alam, yang diturunkan secara turun-temurun dari leluhurnya, Begawan Manumayasa.

Kesaktiannya tidak hanya terletak pada kekuatan fisik, melainkan juga pada keampuhan kata-katanya.

Oleh karena itu, siapa pun yang berhadapan dengannya selalu berhati-hati, karena perkataan Abiyasa dapat menjadi kenyataan.

Bagi banyak orang, lebih baik menyingkir dari hadapan Abiyasa daripada menghadapi murkanya, sebab doanya adalah kutukan, dan ucapannya adalah titah semesta.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Mahabharata #kurawa #resi #Pandawa #Tokoh #wayang #Abiyasa