Jawa Pos Radar Madiun – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin (8/9/2025).
IHSG tergelincir 101 poin atau -1,28% ke level 7.766, dipicu sentimen politik usai Presiden Prabowo Subianto merombak sejumlah menteri dalam Kabinet Merah Putih.
Aktivitas transaksi mencatat volume perdagangan sebanyak 366,88 juta lot saham dengan nilai mencapai Rp20,20 triliun.
Dari 11 sektor di bursa, Basic Industry menjadi sektor terkuat dengan kenaikan 1,03%.
Sementara sektor barang konsumen primer anjlok paling dalam hingga -2,21%.
Beberapa saham yang masuk daftar top gainers antara lain FITT, LION, TALF, CBRE, DEPO, BAPA, dan LAJU.
Adapun saham paling aktif diperdagangkan meliputi BBCA, ANTM, LAJU, PSAB, BMRI, CDIA, dan BBRI.
Berbeda dengan IHSG, bursa saham Asia justru kompak menguat pada hari yang sama.
Katalis positif datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan, sehingga memperbesar peluang Federal Reserve memangkas suku bunga bulan ini.
Data menunjukkan ekonomi AS hanya menciptakan 22.000 lapangan kerja pada Agustus, jauh di bawah ekspektasi 75.000.
Kondisi ini mendorong spekulasi pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps, bahkan ada peluang 8% untuk pemangkasan jumbo 50 bps.
Indeks Asia per 8 September 2025:
Nikkei 225 (Jepang) +1,45% ke 43.643
Shanghai Composite (China) +0,38% ke 3.826
Hang Seng (Hong Kong) +0,85% ke 25.633
Kospi (Korsel) +0,45% ke 3.219
Taiex (Taiwan) +0,22% ke 24.547
ASX200 (Australia) -0,24% ke 8.849
Di pasar valas, sejumlah mata uang Asia bergerak variatif.
Yen Jepang turun 0,13% menjadi 147,62 per USD, sementara dolar Singapura (SGD) menguat 0,16% ke 1,2827 per USD.
Menariknya, rupiah justru menguat signifikan 0,75% ke 16.309 per USD, sejalan dengan aliran dana asing yang masuk ke pasar obligasi dan ekspektasi stabilitas kebijakan moneter.
Sementara itu, ringgit Malaysia naik 0,27% ke 4,2178 per USD dan baht Thailand melesat 0,80% ke 31,82 per USD.
Pasar kini menanti rilis laporan inflasi AS pada Kamis (11/9) yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter The Fed ke depan. (her)
Editor : Hengky Ristanto