Jawa Pos Radar Madiun – Banyuwangi sejak lama dikenal sebagai salah satu lumbung pertanian di Jawa Timur.
Di tengah dinamika sektor pertanian yang terus berubah, petani dituntut semakin adaptif agar mampu bertahan sekaligus berkembang.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan Kelompok Petani Buah Naga Banyuwangi (Panaba).
Melalui pendampingan Program Klasterku Hidupku dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), klaster ini berhasil naik kelas dan memperkuat daya saing petani lokal.
Panaba dipimpin Edy, petani buah naga yang melihat potensi komoditas tersebut sejak satu dekade lalu.
Klaster Panaba dibentuk pada 2016, bertepatan dengan pesatnya perkembangan budidaya buah naga di Banyuwangi.
Namun, pertumbuhan itu juga diiringi persoalan klasik, mulai dari serangan penyakit tanaman hingga kelebihan pasokan yang menekan harga.
“Waktu itu tanaman buah naga makin banyak, tapi penyakit juga mulai muncul dan harga sering jatuh karena pasar kelebihan suplai. Dari situ kami sepakat membentuk klaster supaya bisa mencari solusi bersama,” ujar Edy.
Melalui klaster, petani memiliki ruang diskusi untuk menyamakan pola tanam, berbagi pengalaman, sekaligus menjaga stabilitas harga.
Panaba bahkan menetapkan pedoman harga jual untuk melindungi petani dari permainan tengkulak.
“Kalau harga pasar Rp 10 ribu, pedagang klaster minimal beli Rp 7 ribu. Yang di luar klaster sering membeli jauh lebih murah. Ini yang kami jaga,” jelasnya.
Seiring berkembangnya klaster, kebutuhan modal dan penguatan kapasitas usaha pun meningkat.
Sejak 2017, Panaba mendapatkan pendampingan melalui Program Klasterku Hidupku BRI.
Dukungan tersebut menjadi titik balik bagi petani untuk berani berinvestasi pada teknologi.
“Kalau mau pakai teknologi, butuh modal besar. Kalau jalan sendiri berat. Dengan pendampingan BRI, petani jadi lebih berani,” kata Edy.
Salah satu inovasi penting adalah pemanfaatan lampu untuk mengatur siklus produksi buah naga agar tidak bergantung musim.
Teknologi ini membantu menjaga kontinuitas panen, meningkatkan kualitas buah, sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Tak hanya permodalan, BRI juga memberikan pelatihan dengan menghadirkan pakar pertanian.
Akses pembiayaan pun dipermudah tanpa agunan rumit bagi petani yang telah memiliki tanaman produktif.
“Petani jadi lebih percaya diri. Tidak merasa jalan sendiri,” imbuh Edy.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan, Program Klasterku Hidupku dirancang untuk mendorong UMKM, khususnya sektor produksi, agar naik kelas melalui pendekatan ekosistem.
“BRI tidak hanya memberi akses modal, tetapi membangun kolaborasi, meningkatkan skala usaha, dan memperkuat daya saing. Klaster yang berhasil kami dorong menjadi role model di daerah lain,” ujarnya.
Hingga akhir 2025, BRI tercatat telah membina 42.682 klaster usaha dengan lebih dari 3.000 kegiatan pemberdayaan, mulai dari pelatihan hingga dukungan sarana produksi.
Fokus pembinaan diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki daya ungkit tinggi terhadap perekonomian daerah.
Bagi petani Panaba, klaster bukan sekadar wadah bersama. Ia menjadi jalan untuk bertahan, berkembang, dan menembus pasar yang lebih luas—dari Banyuwangi untuk Indonesia. (*)
Editor : Hengky Ristanto