JAKARTA – Scarf dan hijab kini tak sekadar pelengkap busana, tetapi medium ekspresi.
Hal itu dibuktikan Hijasmita, brand fesyen asal Jakarta Timur yang mengangkat ornamen lokal dalam desain hijab modern.
Hijasmita didirikan Mita pada 2019 setelah memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan fokus menekuni bisnis fesyen.
Tren hijab printing menjadi titik awal. Namun ia menyadari pentingnya identitas brand yang kuat.
Nama Hijasmita diambil dari Asmita dan dimaknai sebagai simbol hijrah atau perubahan.
Brand ini tak hanya menjual produk, tetapi membawa pesan transformasi diri.
Produk utamanya berupa scarf multifungsi yang bisa digunakan sebagai hijab, outer, waspina, hingga turunan seperti pouch dan scrunchie.
Prinsip keberlanjutan juga diterapkan dengan memanfaatkan sisa kain produksi.
“Scarf itu fleksibel. Sisa kain tetap dimanfaatkan agar tidak terbuang,” ujarnya.
Ciri khas Hijasmita terletak pada motif ornamen Jakarta seperti gigi balang, langkan, padi, dan flora Nusantara yang dikemas modern.
Produknya tampil di berbagai pameran, masuk department store, menjalin kemitraan hingga Bali, bahkan menembus pasar Korea dan Malaysia.
Perkembangan signifikan terjadi setelah Mita bergabung dengan Rumah BUMN Jakarta dan mengikuti program BRIncubator 2023 yang difasilitasi Bank Rakyat Indonesia.
Direktur Micro Bank Rakyat Indonesia Akhmad Purwakajaya mengatakan Rumah BUMN menjadi wadah kolaboratif untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM.
“UMKM didorong memperkuat daya saing dan menghasilkan nilai tambah di pasar. Kisah Hijasmita menjadi inspirasi,” ujarnya. (her)
Editor : Hengky Ristanto