Jawa Pos Radar Madiun - Meskipun dihantam berbagai tekanan fiskal dan moneter, Indonesia sebenarnya tidak kehilangan pijakan.
Fondasi ekonomi dengan pertumbuhan 5,11 persen pada tahun sebelumnya menunjukkan adanya ketahanan.
Namun, untuk bertahan di tengah ketidakpastian 2026, dibutuhkan arah kebijakan yang tidak sekadar responsif, melainkan visioner.
Prof Perdana Wahyu Santosa, direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific, menekankan pentingnya koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter.
Pria yang juga menjabat dekan FEB Universitas YARSI itu menyebut, kebijakan fiskal-moneter yang saling tersinergi adalah kunci mengendalikan inflasi tanpa mematikan pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah perlu fokus pada peningkatan kualitas belanja dengan mengarahkan anggaran pada investasi produktif.
Di sisi lain, perbaikan sistem penerimaan pajak diperlukan untuk memperlebar ruang fiskal yang sehat agar mampu mendorong pertumbuhan jangka menengah secara berkelanjutan.
Baca Juga: Tantangan Ekonomi Indonesia 2026: Rupiah Tembus Rp 17 Ribu, Waspada Daya Beli Melemah
Inklusivitas dan Keadilan Ekonomi
Ekonomi bukan sekadar angka pertumbuhan, melainkan distribusi kesempatan.
Tantangan terbesar saat ini adalah memastikan pertumbuhan dirasakan merata oleh seluruh lapisan masyarakat guna menjaga stabilitas sosial.
-
Penciptaan Lapangan Kerja: Penyederhanaan regulasi untuk meningkatkan daya saing bisnis.
-
Pemberantasan Korupsi: Fondasi utama untuk menjaga kredibilitas kebijakan publik dan kepercayaan investor.
-
SDM dan Transisi Energi: Membangun fondasi ekonomi baru yang lebih tangguh di masa depan.
Ekonomi selalu bergerak dalam siklus. Tantangan di tahun 2026 bukan untuk ditakuti, melainkan dihadapi dengan strategi yang lebih matang.
Dengan analisis tajam dan keberanian mengambil keputusan, Indonesia memiliki peluang untuk tumbuh lebih kuat dan menjamin kesejahteraan bersama. (naz)
Editor : Mizan Ahsani