Jika RI Ingin Jadi Negara Maju, Pertumbuhan Ekonomi Harus 6,7 Persen: Mustahil atau Realistis?

Dony Christiandi • Dipublikasikan Selasa, 21 April 2026 | 20:14 WIB
Sektor pertanian Magetan didorong masuk industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah. AJI PUTRA/RADAR MAGETAN
Sektor pertanian Magetan didorong masuk industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah. AJI PUTRA/RADAR MAGETAN

Jawa Pos Radar Madiun - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa Indonesia harus berakselerasi lebih cepat untuk mencapai visi menjadi negara maju pada tahun 2045 mendatang.

Salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah dengan memacu angka pertumbuhan ekonomi nasional agar konsisten berada di level yang lebih tinggi.

Pemerintah menilai bahwa angka lima persen saja belum cukup untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle-income trap.

“Saya kira, dengan aspirasi Indonesia untuk menjadi negara berpendapatan tinggi (negara maju) pada 2045, Indonesia perlu tumbuh melampaui 5 persen. Artinya, Indonesia perlu mencapai pertumbuhan (ekonomi) setidaknya 6,7 persen. Karena itu, Presiden sangat mendorong kita, meskipun menghadapi situasi global yang penuh tantangan,” ujar Airlangga.

Strategi utama dalam menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil adalah dengan mengandalkan kekuatan konsumsi domestik yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Kontribusi konsumsi dalam negeri tercatat menyumbang sekitar 54 persen dari total permintaan ekonomi, sehingga kepercayaan konsumen menjadi hal yang sangat krusial untuk dipelihara.

Baca Juga: Pajak Motor dan Mobil Listrik Tak Gratis, Gubernur Jabar KDM Ungkap Alasannya

Kondisi global yang penuh ketidakpastian di sektor energi dan pangan menuntut pemerintah untuk merancang kebijakan yang lebih adaptif dan responsif.

“Kita perlu menjaga kepercayaan konsumen karena konsumsi domestik menjadi penopang utama perekonomian,” kata Airlangga menjelaskan pentingnya stabilitas daya beli masyarakat.

Di bidang energi, Indonesia terus mengupayakan kemandirian melalui program diversifikasi untuk menekan angka impor bahan bakar dari luar negeri.

“Pemerintah terus mendorong peningkatan pencampuran biodiesel hingga B50 untuk mengurangi ketergantungan impor energi,” ujarnya.

Sementara di sektor pangan, posisi Indonesia kini semakin diperhitungkan dunia berkat kemampuan memproduksi pupuk urea yang melebihi kebutuhan domestik.

“Untuk pupuk urea, kita memiliki kelebihan dan bahkan mengekspor sekitar 1,5 juta ton setiap tahun,” ungkap Airlangga yang juga menyebut bahwa negara seperti India dan Australia telah meminta dukungan pasokan dari Indonesia. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
negara maju indonesia Airlangga Hartarto kelas menengah pertumbuhan ekonomi