Jawa Pos Radar Madiun - Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa penyaluran kredit baru pada triwulan I 2026 tetap berada di jalur pertumbuhan positif meski mengalami perlambatan dibandingkan akhir tahun sebelumnya.
Kondisi ini dipandang wajar karena sesuai dengan pola historis awal tahun, di mana aktivitas ekonomi cenderung menyesuaikan diri setelah periode puncak di triwulan sebelumnya.
Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, menjelaskan bahwa capaian penyaluran kredit kali ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang mencapai 38,74 persen.
Meskipun angka ini lebih rendah dari SBT triwulan IV 2025 yang sebesar 88,92 persen, optimisme perbankan untuk periode mendatang tetap terjaga sangat tinggi.
Lonjakan permintaan pada sektor rumah tangga menjadi faktor krusial yang mendominasi penyaluran kredit pada pembukaan tahun ini.
“Pertumbuhan kredit tersebut utamanya didorong oleh kredit konsumsi,” ujar Anton Pitono dalam keterangannya yang menyoroti sektor konsumsi sebagai tulang punggung pertumbuhan saat ini.
Secara lebih terperinci, kredit konsumsi mencatatkan SBT sebesar 51,97 persen yang bersumber dari tingginya permintaan kredit multiguna dan kredit tanpa agunan (KTA).
Baca Juga: Targetkan Pertumbuhan Kredit 7-9 Persen, BRI Optimistis Perkuat Segmen UMKM di Tahun 2026
Di sisi lain, kredit investasi dan modal kerja juga tetap menunjukkan pertumbuhan positif meskipun perbankan menerapkan standar yang lebih berhati-hati pada awal tahun ini.
Indeks Lending Standard (ILS) yang bernilai positif 0,15 menunjukkan bahwa perbankan cenderung lebih selektif dalam memberikan pinjaman, terutama terkait jangka waktu dan persyaratan administrasi.
Kebijakan yang lebih ketat ini menyasar sektor investasi guna menjaga kualitas aset di tengah dinamika ekonomi nasional yang sedang berjalan.
Memasuki triwulan II 2026, responden survei memprakirakan standar penyaluran kredit akan kembali melonggar dengan SBT yang melonjak ke angka 96,65 persen.
Sektor modal kerja diprediksi akan menjadi prioritas utama perbankan, diikuti oleh investasi dan konsumsi seiring dengan peningkatan aktivitas bisnis masyarakat.
Hingga akhir tahun 2026, outstanding kredit diperkirakan mampu tumbuh sebesar 8,06 persen secara tahunan didorong oleh prospek moneter yang tetap positif.
Kendati target ini sedikit di bawah realisasi tahun 2025, terjaganya risiko kredit menjadi modal kuat bagi perbankan untuk terus mendukung ekspansi ekonomi domestik. (naz)
Editor : Mizan Ahsani