Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kicaumania Boleh Bangga! Hobi Burung Kicau Jadi Mesin Ekonomi Baru, Mendag Sebut Nilainya Tembus Rp 2 Triliun

Mizan Ahsani • Minggu, 3 Mei 2026 | 16:55 WIB
Ilustrasi lomba burung kicau di Madiun Raya. (DOKUMEN RADAR MADIUN)
Ilustrasi lomba burung kicau di Madiun Raya. (DOKUMEN RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun - Hobi memelihara dan melombakan burung kicau kini bukan lagi sekadar kegiatan sampingan.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan bahwa ekosistem hobi burung kicau di Indonesia telah berkembang menjadi sektor ekonomi yang sangat besar, dengan nilai perputaran uang mencapai Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun.

Pernyataan tersebut disampaikan Budi saat menghadiri Festival Lomba Burung Berkicau dan Kuliner UMKM di Jakarta, Minggu (3/5).

Menurutnya, angka fantastis ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan tingginya minat masyarakat di berbagai daerah untuk menyelenggarakan lomba burung.

Menggerakkan Ekonomi UMKM

Lebih dari sekadar hobi, geliat lomba burung berkicau menciptakan efek domino bagi sektor usaha kecil.

Budi menjelaskan bahwa hobi ini menghidupkan rantai pasok (supply chain) yang luas dan melibatkan banyak pelaku UMKM.

"Kalau lomba burung berkicau semakin banyak, maka dampaknya juga semakin besar. Ini melibatkan peternak, pelaku breeding, pembuat sangkar burung, hingga pabrik pakan dan peternak jangkrik," jelas Mendag.

Baca Juga: Kredit UMKM BRI Tembus Rp 1.211 Triliun di Awal 2026, Sektor Pertanian Dominan

Rantai Ekosistem Ekonomi Burung Kicau:

Sektor Usaha Peran dalam Ekosistem
Peternak/Breeder Penyedia bibit burung unggul.
Industri Pakan Produksi pakan khusus dan suplemen.
Peternak Jangkrik/Kroto Pemasok pakan alami/ekstra fooding.
Pengrajin Sangkar Produksi perlengkapan dan aksesoris.
Penjual/Bakul Pemasaran dan distribusi ke konsumen.

Dorong Ekspor dan Kelestarian Lingkungan

Tak hanya unggul di pasar domestik, komoditas burung hias juga mulai menembus pasar internasional. Pada tahun lalu, nilai ekspor burung hias Indonesia tercatat mencapai Rp12,5 miliar.

Pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong agar potensi ekspor ini semakin besar ke depannya.

Selain faktor ekonomi, Mendag menekankan bahwa pengembangan ekosistem ini sangat memperhatikan aspek pelestarian lingkungan. Pemerintah memastikan bahwa burung yang diperlombakan adalah hasil penangkaran (ternak), bukan hasil tangkapan dari alam liar.

"Kami ingin memperkenalkan kepada kita semua bagaimana kita mencintai lingkungan dan melestarikan burung kicau. Burung yang dilombakan bukan burung liar, jadi ini burung ternak. Ini sejalan dengan upaya kita menjaga habitat asli di alam," tegas Budi.

Pemerintah menyatakan komitmennya untuk terus mendukung penyelenggaraan lomba burung berkicau secara berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi para pelaku UMKM yang bergantung pada ekosistem hobi yang unik dan produktif ini. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#lomba burung kicau #budi santoso #Kicaumania #menteri perdagangan #transaksi