Jawa Pos Radar Madiun - Usai jeda libur panjang akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (18/5/2026) dengan kinerja yang mengecewakan.
Pasar saham domestik langsung terjun bebas dan didominasi zona merah, dipicu oleh sentimen negatif dari penyedia indeks global MSCI dan FTSE.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Tembus Rp 17.629 per Dolar: Apa Dampaknya bagi Perekonomian dalam Negeri?
Kondisi Perdagangan IHSG
Berdasarkan data perdagangan pada pukul 09.13 WIB, IHSG tercatat melemah cukup dalam hingga 2,44 persen (turun 165,385 poin) dan terparkir di posisi 6.564.
Pada sesi pembukaan, indeks sejatinya dibuka terkoreksi di level 6.628,97, namun langsung anjlok lebih dalam hingga sempat menyentuh pelemahan 2,59 persen ke titik terendah 6.547.
Statistik pasar menunjukkan kepanikan aksi jual yang cukup masif:
Saham Melemah: 522 saham
Saham Menguat: 112 saham
Saham Stagnan: 96 saham
Volume Perdagangan: 5,57 miliar lembar saham senilai Rp3,3 triliun.
Biang Kerok: "Efek Ganda" MSCI dan FTSE
Koreksi tajam yang menimpa IHSG hari ini tidak lepas dari rentetan sentimen dari dua penyedia indeks prestisius global.
Tekanan ini berpusat pada saham-saham berkapitalisasi raksasa yang dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) alias minim saham beredar (free float).
1. Penghapusan oleh MSCI
MSCI secara resmi mendepak enam saham raksasa Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yaitu:
-
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
-
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
-
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
-
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
-
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
-
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
Selain itu, MSCI juga mencoret 13 saham dari daftar MSCI Global Small Cap Index.
2. Ancaman "Harga Nol" dari FTSE
Menyusul MSCI, penyedia indeks FTSE juga merilis peringatan serius bagi emiten Tanah Air yang masuk kategori HSC.
Melalui laporan terbarunya, FTSE mengancam akan menghapus saham-saham yang dinilai minim likuiditas yang menyulitkan investor institusi untuk keluar masuk dengan status "harga nol" pada evaluasi Juni 2026.
Emiten besar yang disorot dalam isu ini di antaranya BREN milik taipan Prajogo Pangestu dan DSSA dari Grup Sinarmas.
Deretan Saham Pemberat Indeks
Sentimen negatif ini langsung mengerek turun saham-saham raksasa yang masuk dalam radar penghapusan, yang akhirnya menjadi beban utama bagi IHSG.
Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan pemberat utama sebagai berikut:
BBCA (Bank Central Asia): Turun 2,5%, menjadi penyumbang pelemahan terbesar (14,05 indeks poin).
DSSA (Dian Swastatika Sentosa): Dibuka langsung menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB) -15% ke Rp880 per saham (menyumbang 13,67 poin pelemahan).
TPIA (Chandra Asri Pacific): Juga terkena ARB (-14,88%) ke level Rp3.660 (menyumbang 13 poin pelemahan).
BREN (Barito Renewables Energy): Anjlok ke Rp2.880, membuat saham ini terpaksa turun takhta sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia (menyumbang 10 poin pelemahan).
AMMN (Amman Mineral Internasional): Menyumbang beban pelemahan sebesar 9,12 indeks poin.
Baca Juga: Daftar Peraih Penghargaan Individu AVC Champions League 2026, Noumory Keita MVP
Catatan OJK dan Analis
Di tengah gejolak ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menenangkan publik dengan menyatakan bahwa dikeluarkannya beberapa saham dari indeks Small Cap MSCI bukan semata-mata karena fundamental yang memburuk.
Beberapa saham justru mengalami kenaikan kapitalisasi yang membuat mereka layak "naik kelas", namun statusnya masih tertahan oleh kebijakan pembekuan sementara (freeze) dari MSCI.
Senada dengan OJK, Kepala Analis Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai bahwa tekanan pasar dari arus modal keluar (foreign outflow) tidak akan sebesar ekspektasi awal.
Sebagian investor diyakini sudah mengantisipasi kebijakan MSCI ini lebih dulu (priced in).(*)
*Syiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura