Jawa Pos Radar Madiun - Pada Oktober 2025, trio shoegaze dan alt-rock asal Yogyakarta, Sunlotus, merilis album penuh kedua bertajuk Behind Closed Doors.
Karya ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan musik mereka, menandai fase eksplorasi yang lebih matang, lebih berani, dan lebih emosional dibanding album sebelumnya.
Album ini membawa tema besar tentang ruang-ruang batin yang jarang diungkapkan.
Perasaan yang kerap tersembunyi di balik “pintu-pintu tertutup”: keputusasaan, kesepian, kehilangan, hingga secercah harapan yang tetap bertahan meski berada di tengah suasana kelam.
Sunlotus berupaya menjadikan album ini sebagai pengalaman mendengarkan yang utuh, bukan sekadar kumpulan lagu.
Sebagai pembuka menuju album, Sunlotus merilis single “Self Bondage” pada Agustus 2025.
Lagu tersebut menyelami nuansa kehilangan dan kekosongan, menghadirkan kerinduan terhadap sesuatu yang terasa jauh dan sulit digapai.
Secara musikal, dinamika yang digunakan lebih dramatis: perpaduan gitar clean yang tenang, distorsi berat yang meledak pada bagian puncak, serta vokal yang dibuat lebih ekspresif dibanding karya sebelumnya.
Dalam proses kreatifnya, lagu ini dikembangkan dengan nuansa minor yang lebih gelap dan ditambah elemen choir untuk memberikan kesan luas dan megah.
Eksplorasi Sunlotus tidak berhenti pada warna suara.
Durasi beberapa sketsa awal bahkan mencapai 7–10 menit, namun kemudian dipadatkan agar keseluruhan album tetap solid dan nyaman dinikmati dalam satu rangkaian sekitar 45 menit.
Beberapa vokalis turut terlibat, antara lain Stephania Shakila pada lagu pertama dan Amanda Putri Kinasih pada lagu kedua.
Mastering album ini menghasilkan kualitas audio yang jernih tanpa menghilangkan tekstur shoegaze yang menjadi ciri mereka.
Behind Closed Doors disusun sebagai sebuah perjalanan emosional.
Dengan delapan lagu, pendengar diajak masuk ke lorong-lorong perasaan yang jarang tersentuh.
Dari kesunyian, keterikatan, luka batin, hingga titik penerimaan.
Konsep “pintu tertutup” menjadi metafora bagi sisi-sisi pribadi yang sering disembunyikan, tetapi justru membentuk karakter seseorang.
Album ini resmi dirilis pada 17 Oktober 2025 melalui Lawless Jakarta Records.
Bagi penggemar shoegaze maupun pendengar baru, Behind Closed Doors diharapkan menjadi ruang resonansi emosional yang kuat.
Eksperimen yang dilakukan Sunlotus dalam album ini semakin memperkuat karakter mereka sebagai salah satu kelompok musik shoegaze/alternatif paling menjanjikan di Indonesia dengan identitas yang semakin dewasa. (fin)
Editor : AA Arsyadani