Jawa Pos Radar Madiun - Duo folk asal Surabaya, Silampukau, kembali memikat dengan lagu mereka, “Malam Jatuh di Surabaya”.
Lagu ini menampilkan Surabaya bukan sekadar latar, tapi juga tokoh yang hidup dalam narasi penuh nuansa malam yang tenang, lampu redup, dan jalanan yang mengundang perenungan.
Silampukau sering menggambarkan kota yang keras di siang hari, tetapi rapuh dan nostalgia di malam hari.
Lagu ini menghadirkan momen reflektif: seseorang berjalan menyusuri kota, menyerap aroma malam, dan tersergap oleh ingatan masa lalu.
Kerinduan dalam lagu ini tidak meledak-ledak, melainkan perlahan, pahit, dan tenang, seperti malam yang turun secara perlahan.
Lirik yang tidak eksplisit memberi ruang bagi pendengar untuk menafsirkan pengalaman pribadi masing-masing.
Instrumen sederhana dan tempo yang lambat membuat pendengar seolah berjalan bersama tokoh, menyusuri lorong-lorong Surabaya.
Sunyi di lagu ini bukanlah kekosongan, melainkan momen refleksi yang menyadarkan seseorang akan kehilangan yang belum usai atau masa lalu yang masih melekat.
Selain kisah pribadi, lagu ini juga merefleksikan perubahan kota.
Surabaya yang dulu dikenal mungkin tidak lagi sama, dan perubahan itu kadang menyakitkan.
Lagu ini menjadi sepenggal catatan harian yang kecil, intim, namun jujur, menangkap kerentanan seseorang di tengah kota yang terus bergerak.
“Malam Jatuh di Surabaya” mengingatkan kita bahwa setiap kota menyimpan cerita pribadi, setiap malam membawa kita pada diri sendiri, dan kenangan selalu punya cara untuk kembali, meski kita belum siap. (fin)
Editor : AA Arsyadani