Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Mati Suri atau Bertahan? Ini Tantangan Kelompok Ludruk Surabaya di Era Hiburan yang Serba Instan

Satrio Jati • Rabu, 22 April 2026 | 15:44 WIB
Salah satu pertunjukan Ludruk di Kota Surabaya. (ANTARA)
Salah satu pertunjukan Ludruk di Kota Surabaya. (ANTARA)

Jawa Pos Radar Madiun - Lanskap hiburan di Surabaya telah berubah drastis akibat derasnya arus modernisasi yang membawa platform digital dan media sosial ke ranah domestik.

Kondisi ini membuat ludruk, dengan durasi pementasan yang panjang dan format tradisionalnya, perlahan mulai kehilangan panggung reguler di tengah masyarakat.

Data lapangan menunjukkan bahwa banyak kelompok ludruk yang masih terdaftar secara administratif, namun sebagian besar justru mengalami kondisi "mati suri".

Minimnya panggilan pentas dan persoalan ekonomi menjadi faktor utama yang membuat proses regenerasi seniman muda menjadi tersendat.

Keterbatasan anggota dan minimnya minat penonton generasi baru menciptakan kesenjangan yang lebar antara realitas saat ini dengan kejayaan di masa lalu.

Baca Juga: Mengenang Kejayaan Ludruk, dari Panggung THR hingga Menjadi Legenda Sarip Tambak Oso

Pementasan yang hanya bersifat insidental dinilai belum cukup kuat untuk membangun ekosistem kesenian yang berkelanjutan dan mandiri.

Meskipun pemerintah kota telah berupaya memberikan ruang melalui pementasan keliling kampung, tantangan kesinambungan tetap menjadi persoalan mendasar.

Dibutuhkan solusi yang lebih terstruktur agar para pelaku seni tidak hanya bergantung pada momen-momen tertentu untuk bisa tampil.

Di sisi lain, persoalan ini memicu munculnya dilema antara mempertahankan pakem tradisional atau harus berkompromi dengan selera pasar yang terus berubah.

Tanpa adanya panggung yang konsisten, masa depan kesenian rakyat ini akan terus berada dalam ketidakpastian di tengah kemajuan infrastruktur kota. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#ludruk #hiburan #surabaya #kesenian