Jawa Pos Radar Madiun - Penampilan G-Dragon di Macau kembali menjadi sorotan publik internasional. Leader BIGBANG tersebut tampil dalam acara K-Spark in Macau yang digelar di Macau Outdoor Performance Venue pada 2 Mei 2026.
Namun, bukan hanya aksi panggungnya yang menarik perhatian, melainkan juga outfit yang dikenakannya saat tampil.
G-Dragon terlihat mengenakan atasan panjang yang dipadukan dengan jaket pendek, menciptakan gaya khas yang selama ini menjadi ciri identitasnya. Sayangnya, tulisan yang terdapat pada pakaian tersebut memicu kontroversi besar di media sosial global.
Baca Juga: YG Entertainment Siap Debutkan Boy Group Baru September 2026, Pertama Setelah TREASURE
Tulisan pada outfit tersebut mengandung beberapa kata dalam bahasa Belanda yang dianggap sensitif. Salah satu yang menuai kritik adalah frasa “EEN GEILE”, yang memiliki arti berkonotasi seksual dan dinilai tidak pantas digunakan dalam ruang publik, terutama dalam acara berskala internasional.
Namun, polemik terbesar muncul dari penggunaan kata “NEGER”, yang secara luas dianggap sebagai istilah yang merendahkan ras, khususnya terhadap kulit hitam. Banyak netizen internasional menilai penggunaan kata tersebut sangat tidak sensitif terhadap isu rasial yang hingga kini masih menjadi perhatian global.
Tak butuh waktu lama, foto dan video penampilan tersebut langsung viral dan memicu perdebatan luas. Menanggapi hal ini, agensi G-Dragon, Galaxy Corporation, akhirnya merilis pernyataan resmi pada 3 Mei 2026.
Baca Juga: Kupas Tuntas Mitos Radiasi Layar Gadget: Benarkah Merusak Mata atau Sekadar Kelelahan Otot?
“Kami dengan tulus meminta maaf atas penyertaan kata-kata pada pakaian panggung artis yang tidak pantas dalam konteks sosial dan budaya,” tulis pihak agensi dalam pernyataan yang dikutip dari Allkpop.
Agensi tersebut mengakui bahwa insiden ini menjadi pengingat penting akan perlunya kesadaran budaya dalam proses styling artis, terutama untuk penampilan di panggung internasional.
Galaxy Corporation juga menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur internal, termasuk memperketat sistem pengecekan kostum sebelum digunakan dalam penampilan publik.
Sebagai penutup, mereka kembali menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang merasa kecewa atau tersinggung akibat kontroversi tersebut.
Kontroversi ini menjadi bukti bahwa dalam industri hiburan global, aspek budaya dan sensitivitas sosial memiliki peran yang sangat penting, bahkan dalam detail seperti pemilihan kostum panggung.
Editor : Nur Wachid