Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Hollywood Punya Raja Horor Baru? Film Karya Kreator Muda Ini Sukses Pecahkan Ekspektasi

Tim Magang Radar Madiun • Sabtu, 20 Juni 2026 | 22:28 WIB
The Backrooms Movie (Heaven of Horror)
The Backrooms Movie (Heaven of Horror)

Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah anggapan bahwa media sosial telah mengurangi minat generasi muda terhadap bioskop, dua film horor justru membuktikan hal sebaliknya.

Berasal dari tangan kreator muda yang tumbuh bersama internet dan YouTube, Backrooms serta Obsession menjelma menjadi kejutan besar di industri perfilman pada 2026.

Kedua film tersebut tidak hanya mencetak pendapatan yang melampaui prediksi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana budaya internet, urban legend, dan

kreativitas generasi digital mampu melahirkan pengalaman horor yang segar bagi penonton modern.

Backrooms, Dari Fenomena Internet Menjadi Film Layar Lebar

Backrooms bermula dari sebuah legenda internet yang muncul pada 2019 melalui unggahan di forum daring 4chan.

Konsepnya sederhana namun mengganggu: sebuah labirin ruangan kosong dengan karpet kusam, dinding kuning pudar, dan lampu neon yang terus berdengung tanpa henti.

Ide tersebut kemudian dikembangkan oleh Kane Parsons, sutradara berusia 20 tahun yang sebelumnya dikenal lewat serial pendek di YouTube.

Baca Juga: Madiun Berkilau! Ini Deretan Event Meriah yang Siap Ramaikan Hari Jadi ke-108 Kota Madiun

Setelah video pendeknya menjadi viral dan melahirkan serial web yang sukses, konsep Backrooms akhirnya diangkat menjadi film layar lebar.

Kisah Tentang Ruang yang Tak Berujung

Film ini mengikuti perjalanan Clark, seorang pemilik toko furnitur yang hidupnya sedang berantakan setelah pernikahannya berakhir.

Secara tidak sengaja ia menemukan pintu menuju dunia aneh yang tersembunyi di bawah tokonya.

Alih-alih melarikan diri, Clark justru terobsesi menjelajahi labirin misterius tersebut.

Semakin jauh ia masuk, semakin banyak rahasia dan ancaman yang menunggunya.

Horor dalam Backrooms tidak hanya berasal dari kemunculan makhluk mengerikan, tetapi juga dari suasana yang terasa asing sekaligus akrab.

Rasa tidak nyaman dibangun melalui ruang-ruang kosong yang tampak biasa namun menyimpan ancaman yang tidak terlihat.

Obsession, Ketika Fantasi Berubah Menjadi Mimpi Buruk

Jika Backrooms memanfaatkan ketakutan terhadap ruang dan ketidakpastian, Obsession menawarkan pendekatan berbeda dengan mengeksplorasi obsesi dan keinginan manusia.

Baca Juga: Parade Military Drumband Dongkrak Ekonomi, Pemkot Madiun Siapkan Event Lebih Besar Tahun Depan

Film karya Curry Barker ini berpusat pada Bear, seorang pegawai toko musik yang diam-diam menyukai rekan kerjanya bernama Nikki.

Kehidupannya berubah ketika sebuah benda misterius memberinya kesempatan untuk mengabulkan satu keinginan.

Cinta yang Dipaksakan

Bear berharap Nikki mencintainya lebih dari siapa pun di dunia. Namun keinginan tersebut justru memicu serangkaian peristiwa mengerikan.

Alih-alih menghadirkan kisah romansa, film ini menunjukkan dampak psikologis dan emosional dari hilangnya kebebasan seseorang.

Nikki digambarkan berusaha melawan kendali yang memengaruhi dirinya, menciptakan konflik yang menjadi inti cerita.

Melalui pendekatan tersebut, Obsession menghadirkan kritik terhadap obsesi, kepemilikan, dan egoisme yang sering tersembunyi di balik dalih cinta.

Kreator YouTube yang Mengubah Wajah Horor Modern
Sukses Besar di Box Office

Backrooms dan Obsession sama-sama melampaui ekspektasi industri.

Backrooms diproyeksikan meraih pendapatan sekitar 70 juta dolar AS pada akhir pekan perdananya.

Obsession Movie (Heaven of Horror)
Obsession Movie (Heaven of Horror)

Sementara itu, Obsession mencatat hasil yang bahkan lebih mengejutkan dengan pendapatan global melebihi 100 juta dolar AS, jauh melampaui biaya produksinya.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kreator yang tumbuh di era internet kini mampu bersaing bahkan mengungguli sebagian proyek studio besar.

Horor yang Dekat dengan Budaya Digital

Salah satu faktor yang membuat kedua film ini menonjol adalah kedekatannya dengan pengalaman generasi muda.

Backrooms lahir dari fenomena internet dan budaya creepypasta, sedangkan Obsession mengangkat tema hubungan, obsesi, dan kontrol yang relevan dengan kehidupan modern.

Baca Juga: Toy Story 5 Hadir dengan Konflik Baru, Apakah Pixar Berhasil Menghidupkan Keajaiban Lama?

Keduanya memanfaatkan bahasa visual serta cara bercerita yang akrab bagi generasi yang tumbuh bersama media sosial.

Awal Kebangkitan Horor Zoomer?

Kesuksesan Backrooms dan Obsession menjadi sinyal bahwa Hollywood sedang memasuki fase baru dalam genre horor.

Jika sebelumnya banyak film horor terinspirasi dari novel atau kisah klasik, kini sumber inspirasinya datang dari internet, komunitas digital, dan pengalaman generasi muda.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu menjadi ancaman bagi industri perfilman.

Dalam beberapa kasus, internet justru menjadi tempat lahirnya ide-ide kreatif yang mampu menarik penonton kembali ke bioskop. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Magang Radar Madiun
#Backrooms #Obsession #Movie hollywood