Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Di Tengah Tren AI, Slay the Spire 2 Ambil Langkah Berani: Placeholder Sengaja Dibuat Buruk

Tim Content Writer Radar Madiun • Selasa, 14 Juli 2026 | 13:25 WIB
Slay the Spire 2 memilih ilustrasi buatan manusia ketimbang AI generatif untuk placeholder. (gamespoot.com)
Slay the Spire 2 memilih ilustrasi buatan manusia ketimbang AI generatif untuk placeholder. (gamespot.com)

Slay the Spire 2 Tolak AI Generatif, Developer Pilih Ilustrasi Buatan Manusia Meski Sengaja Dibuat "Jelek"

Jawa Pos Radar Madiun - Di saat banyak studio game mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat proses pengembangan, Mega Crit justru mengambil jalan yang berbeda. 

Alih-alih menggunakan gambar hasil AI sebagai placeholder, pengembang Slay the Spire 2 memilih mempertahankan ilustrasi sederhana bergaya Microsoft Paint yang bahkan mereka sebut sengaja dibuat "buruk".

Di balik keputusan tersebut, ternyata ada filosofi pengembangan yang ingin mereka pertahankan.

Keputusan ini diungkap langsung oleh salah satu pendiri Mega Crit, Casey Yano, dalam wawancaranya bersama GameSpot.

Menurutnya, penggunaan ilustrasi buatan manusia bukan sekadar bentuk penolakan terhadap AI, tetapi juga cara untuk menunjukkan kepada pemain bahwa game masih berada dalam tahap Early Access.

Placeholder Sederhana Agar Ekspektasi Pemain Tetap Realistis

Yano menjelaskan bahwa timnya memang ingin pemain memahami bahwa Slay the Spire 2 masih dalam proses pengembangan. 

"I think things being obviously incomplete is actually pretty important for early access. Otherwise people would judge the game as if it’s a 1.0, fully developed video game."

Karena itulah, placeholder yang digunakan sengaja dibuat terlihat kasar dan belum selesai agar pemain tidak menganggap seluruh aset visual tersebut sebagai versi final.

Ia bahkan menegaskan bahwa placeholder memang harus tampak seadanya. 

"If we use art that looks nearly complete, then people would think that that’s going to be the final art. It has to look like shit. It’s important that it looks like shit."

Bukan Asal Gambar, Placeholder Tetap Harus Bermakna

Meski terlihat sederhana, Yano mengatakan setiap placeholder tetap memiliki fungsi penting dalam pengembangan game.

Menurutnya, ilustrasi sementara harus cukup jelas agar pemain dapat mengenali item maupun elemen permainan.

Jika seluruh ikon hanya berupa kotak berwarna, pemain akan kesulitan memahami informasi saat bermain.

Selain membantu pemain, placeholder tersebut juga menjadi acuan bagi ilustrator saat membuat versi final. 

"This must be what Casey wanted. This must be intentional."

Karena itu, komposisi, warna, hingga ide dasar dari gambar sementara tetap dirancang agar dapat diterjemahkan ke dalam ilustrasi resmi nantinya.

Mega Crit Nilai AI Menghilangkan Proses Berkarya

Yano mengaku memahami mengapa sebagian developer tertarik memakai AI generatif, terutama karena mampu menghasilkan gambar dalam waktu singkat.

Namun sebagai seseorang yang juga menggambar, ia merasa proses kreatif manusia tidak bisa digantikan begitu saja. 

"Anybody who has gone through the artistic process... they would feel a kind of sadness."

Ia juga menilai AI menghilangkan unsur niat dan keputusan artistik yang lahir selama proses menggambar.

"When you draw anything, you draw a thousand lines. Each line is not some serious decision, but there’s a decision process for nearly every line."

Menurutnya, setiap goresan, koreksi, hingga garis yang dihapus merupakan bagian dari ekspresi seorang seniman.

Hal inilah yang tidak dimiliki oleh gambar hasil AI.

Ingin Pertahankan Sentuhan Manusia

Yano mengungkapkan bahwa placeholder buatan timnya justru menyimpan banyak cerita lucu selama proses pengembangan.

Ia mencontohkan salah satu developer yang gemar menggambar robot sehingga hampir semua placeholder miliknya dipenuhi referensi mecha maupun budaya pop. 

"We’re [going to] get sued by Nintendo soon."

Bahkan, Mega Crit berencana mengadakan kompetisi komunitas setelah pengembangan game semakin matang.

Nantinya, pemain bisa mengirim ilustrasi buatan mereka sendiri untuk dijadikan opsi tampilan monster di dalam game.

Namun ada satu syarat penting: karya tersebut tidak boleh dibuat menggunakan AI generatif. 

"We’re just trying to be like, 'Hey, we’re drawing silly, bad, very human art.'"

AI Hanya Dipakai untuk Membantu Pemrograman

Meski menolak AI untuk membuat ilustrasi, Mega Crit tidak sepenuhnya menutup diri terhadap teknologi tersebut.

Yano menjelaskan bahwa beberapa programmer memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk melakukan code review atau memeriksa penulisan kode.

Sementara dirinya sesekali menggunakan AI layaknya kamus atau tesaurus digital.

Namun untuk karya visual, pendiri Mega Crit itu tetap bersikukuh bahwa ekspresi manusia jauh lebih penting dibanding hasil yang dihasilkan mesin. 

"Art is not like that. It’s an expression."

Bagi Mega Crit, ilustrasi sederhana yang dibuat langsung oleh manusia bukan sekadar placeholder.

Gambar-gambar tersebut menjadi dokumentasi perjalanan pengembangan Slay the Spire 2, sekaligus menunjukkan bahwa sentuhan manusia masih memiliki tempat penting di tengah derasnya penggunaan AI generatif dalam industri game.

 

 

Haninda Navyra Putri - Universitas Brawijaya


 

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : gamespot
game PC slay the spire 2 mega crit radar madiun jawa pos radar madiun