PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Sisa waktu tinggal dua hari sebelum pendaftaran Duta Batik Jawa Timur 2022 ditutup panitia. Hashifa Tsanianty Fitria Adhinata buru-buru menyelesaikan persyaratan administrasi. Salah satunya membuat video profil dan kampanye mengenai batik.
Dokumentasi berdurasi satu menit itu membawanya lolos babak 20 besar. Sebelum akhirnya keluar sebagai juara pertama wanita ajang tersebut. Menyisihkan 60 peserta lain dari kota/kabupaten se-Jatim. ‘’Sama sekali tidak menyangka,’’ kata Hashifa yang tinggal di Kelurahan Tonatan, Ponorogo, Sabtu (12/3).
Barangkali dewan juri terpukau dengan video profil buatan Hashifa. Sebab, dia terlihat anggun mengenakan pakaian model blazer batik bermotif merak khas Ponorogo. Padu dengan setelan kaus dan rok berwarna hitam di bawah lutut.
Dalam cuplikan video, gadis bertinggi badan 165 sentimeter itu berlenggak-lenggok di area sentra industri batik Ponorogo. Kemudian berinteraksi dengan perajin batik tulis dan mencoba mencanting. ‘’Saya ingin memberi contoh ke generasi muda bahwa pakai batik tidak akan terlihat kuno, karena bisa dikreasi dengan tren masa kini,’’ tuturnya.
Di babak 20 besar, Hashifa dites wawancara via video telekonferensi. Enam juri mengorek wawasannya seputar batik dan visi-misi memopulerkan warisan budaya tak benda yang telah diakui UNESCO itu. Kemampuan berbahasa Inggris gadis 19 tahun itu juga diuji.
Hasilnya, Hashifa melenggang ke babak grand final bersama sembilan kandidat lain. Tantangannya lebih berat lantaran harus ikut karantina selama dua hari di Surabaya. Kebiasaan para peserta dinilai. Mulai cara berpakaian, duduk, hingga tutur bicara.
Hashifa yang masuk top five kembali diberi pertanyaan seputar batik dan pengetahuan umum. Jawaban mahasiswi semester II jurusan psikologi Universitas Negeri Yogyakarta itu di atas panggung membuat juri kesengsem. ‘’Dewan juri cukup puas dengan semua jawaban yang saya lontarkan,’’ ujarnya.
Hashifa patut bangga memenangkan duta batik Jatim. Sebab, berangkat dengan status Duta Wisata Ponorogo 2021. Informasi ajang itu juga terbilang mendadak. ‘’Karena di Ponorogo ini memang belum ada kompetisi duta batik,’’ ucap gadis berzodiak Sagitarius itu.
Adalah sang ibu yang menangkap bakat Hashifa di dunia modeling. Setelah menang lomba model cilik di salah satu pusat perbelanjaan pada usia tiga tahun. Lalu, juara I Thole-Ghenduk 2014 alias duta wisata cilik Ponorogo saat masih kelas VI SD. ‘’Sering ikut lomba modeling, menang-kalah sudah biasa,’’ tuturnya. (fac/cor/c1/her)
Editor : Hengky Ristanto