MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Pagi itu, Husna Shofiatun Naja dan Septiana Eka Ramadhani tampak sibuk mencacah lima buah kulit pisang di pekarangan MTsN 3 Madiun. Setelah terpotong kecil-kecil, keduanya lantas mengambil wadah plastik berisi air untuk mencuci potongan kulit pisang tersebut hingga bersih. Lalu, dijemur di bawah terik matahari.
Beberapa saat berselang, mereka menumbuk cangkang sekitar 10 butir telur ayam hingga halus. ‘’Kalau kulit pisang dan cangkang telurnya sudah kering, dicampur air sampai memenuhi botol plastik ukuran 600 mililiter,’’ kata pembina Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) MTsN 3 Madiun Luthfiyatul Faudah.
Setelah dimasukkan botol, campuran kulit pisang, cangkang telur ayam, dan air itu didiamkan selama empat hari untuk proses fermentasi. Setelah itu, kembali dicampur air. Takarannya, 150 mililiter larutan fermentasi bahan-bahan tersebut dan 850 mililiter air. ‘’Selanjutnya, siap untuk memupuk tanaman,’’ ungkapnya.
Bahan pupuk cair tersebut merupakan limbah yang biasa dijumpai di lingkungan rumah atau sekolah. Termasuk bahan sisa pengolahan menu masakan untuk hajatan dan acara lainnya. ‘’Pupuk cair hasil olahan kami tidak menggunakan bahan kimia. Murni organik,’’ tegas perempuan 41 tahun itu.
Kreativitas tim KIR MTsN 3 Madiun membuat pupuk organik cair dipastikan menjadi solusi alternatif mengurai persoalan sampah di wilayah Kabupaten Madiun. ‘’Sementara kami aplikasikan di sekolah, juga rumah guru dan siswa. Kami berharap nanti dapat diaplikasikan pada petani secara luas,’’ ujarnya.
Pupuk organik cair buatan tim KIR MTsN 3 Madiun terbukti mampu menyuburkan tanaman. Tidak terkecuali cabai. Setelah menggunakan pupuk tersebut, batangnya tumbuh panjang dan daun-daunnya berdiameter lebih besar. ‘’Kami upayakan pupuk ini diuji lab,’’ tuturnya. *** (ggi/isd/c1)
Editor : Hengky Ristanto