PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Aji Bangkit Pamungkas mempersembahkan kado istimewa bagi Indonesia menjelang Hari Jadi Ke-526 Ponorogo. Dia membawa pulang medali emas dari Kejuaraan Dunia Pencak Silat ke-19 di Melaka International Trade Centre, Malaysia.
--------------------------------------------
RAUT wajah Agus Widodo memancarkan aura bahagia. Duduk bersila di ruang tamu mengenakan setelan baju koko berkelir putih dan sarung. Air matanya pecah tatkala menceritakan perjuangan Aji Bangkit Pamungkas, anak bungsunya yang merupakan atlet pencak silat nasional. Dari tempaan sang ayah ini, Bangkit berproses menjadi atlet berprestasi. Deretan medali dan foto-foto hasil kerja keras Bangkit tertata rapi di rumahnya di Kelurahan Kertosari, Babadan.
Terbaru, Bangkit membawa pulang medali emas di kelas bebas II (110 kilogram) Kejuaraan Pencak Silat Dunia ke-19. Dia dinobatkan menjadi jawara setelah menumbangkan Mr. Autthapong Saeng Tape, atlet Thailand. Ajang bergengsi kelas dunia itu berlangsung di Melaka International Trade Centre, Malaysia, pada 25–31 Juli lalu. ‘’Kalau ingat masa dulu, saya pasti meneteskan air mata seperti ini,’’ kata Agus.
Prestasi itu menjadi torehan kesekian kalinya atlet asal Bumi Reog tersebut. Bangkit mendapat panggilan mewakili Indonesia dalam ajang kelas internasional itu akhir Maret lalu. Dia dipercaya menjadi pelatih atlet Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Ponorogo dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur. Sebenarnya, Bangkit harus mendampingi anak didiknya mengikuti Porprov Jatim di Lumajang Juni lalu. Namun, dia harus bertolak ke Jakarta untuk mengikuti pemusatan latihan nasional (pelatnas) 9 Juni. ‘’Persiapannya mendadak,’’ lanjutnya.
Tantangan berat harus dihadapi atlet kelahiran 1999 itu sejak masa latihan. Ketika itu, dengan berat badan 107 kilogram, dia mengira bakal diikutkan dalam kelas 90 kilogram. Artinya, dia harus ekstra berlatih demi menurunkan berat badan. Setibanya di Jakarta, ternyata Bangkit diturunkan dalam kelas bebas II, dengan berat badan minimal 110 kilogram. Alhasil, Bangkit harus menambah porsi dan gizi makanan agar berat badannya naik. Satu bulan penuh di pelatnas, Bangkit sukses memenuhi berat badan yang ditargetkan. ‘’Ternyata, saat kejuaraan berat badannya paling kecil,’’ ungkapnya.
Seperti pada momen kejuaraan-kejuaraan sebelumnya, Bangkit tak lupa meminta restu orang tua. Sang ayah tahu betul karakter anak bungsunya. Alumni SMKN 1 Jenangan itu tak pernah bercerita ke orang tuanya jika mengalami cedera usai bertanding. Hal itu justru membuat Agus selalu khawatir. Dia memilih tak keluar kamar sekalipun. Agus bermunajat kepada Tuhan dengan salat Duha sebanyak 12 rakaat dan membaca Surah Yasin saat anaknya hendak bertanding. ‘’Saat acara dimulai, barulah saya menonton live di YouTube. Alhamdulillah juara,’’ ucap Agus penuh syukur. *** (tr3/kid/c1)
Editor : Hengky Ristanto