-------------
ORANG tua Muhammad Ridho Saputra sadar, ilmu agama merupakan bekal penting bagi anaknya. Usai lulus dari sekolah dasar, orang tuanya memilih pondok pesantren (ponpes) sebagai tempat pendidikan bagi Ridho. Di ponpes itulah Ridho banyak mendapat bekal ilmu agama. "Dari situ saya mulai belajar membaca Quran," kata Ridho.
Meski lahir dengan kekurangan, Ridho tak menyerah. Dia terlahir dengan mata katarak kedati kini kondisinya sudah berangsur normal. Di balik kekurangan itu, dia sadar memiliki kelebihan yakni mudah menghafal.
Bahkan ketika mendapat tugas hafalan, dia paling cepat setor ke ustad. "Salah satu ustad dari Ponorogo melihat potensi saya dalam menghafal cepat dan saya memiliki tekad menghafal Quran," lanjutnya.
Ridho mulai menghafal Quran sejak duduk di kelas VIII MTs di Gorontalo. Sadar sekolahnya bukan kelas khusus tahfidz, Ridho hanya mampu menghafal juz 28-30. Pun tidak ada guru yang mengajarinya.
Akhirnya usai lulus MTS 2018 lalu, dia bertolak ke Bumi Reog dan mulai mewujudkan mimpinya sebagai seorang tahfidz di Ponpes Ahmad Dahlan Ponorogo. "Mulai masuk itu belajar dari awal lagi, baca Quran yang baik dan benar," ujarnya.
Niat dan semangat yang kuat memudahkan Ridho menghafal Quran. Dalam kurun waktu dua tahun, dia tuntas menghafal 30 juz. Usai lulus, dia ingi melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah (UM) Surakarta atau UM Yogyakarta. Namun dia tidak diterima di dua kampus tersebut.
Alhasil, Ridho memutuskan mengabdi bagi ponpesnya dengan menjadi guru sembari kuliah di Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo). "Sekarang sudah berjalan semester tiga," ujar anak ke tiga dari lima bersaudara pasangan Siswanto Supande-Nely Abdullah itu.
Agustus lalu, Ridho mendapat kabar gembira dari ustad Hadi Hidayat. Kader Muhammadiyah diberikan kesempatan mengikuti beasiswa kuliah ke Libya. Pihak ponpes menghubungi Ridlo agar segera mendaftar. "Ustad bilang siapa tahu rejeki saya. Beasiswanya katanya S1 hingga S3, tapi masih belum tahu nantinya," ujarnya.
Ridho tidak ingin melewatkan kesempatan itu dan mencoba mendaftar. Dia harus bersaing dengan 600 peserta dalam seleksi yang ketat. Syukur, namanya tercantum bersama total 83 peserta yang lulus seleksi tahap pertama. Kemudian dia dinyatakan lulus dalam tahap kedua, wawancara singkat dengan panitia. Selanjutnya, 34 peserta terpilih mengikuti seleksi terakhir, wawancara langsung dengan ustad Hadi Hidayat.
"Pada akhirnya, awal Oktober lalu terpilih 30 peserta yang mendapatkan beasiswa dan saya masuk didalamnya. Semua seleksi via dalam jaringan (daring)," ucapnya bangga sembari menyebut tinggal menunggu pemberangkatan ke Universitas Asmariyah Islamiyyah Libya.
Sementara itu, Direktur Ponpes Tahfidz Quran (PPTQ) Ahmad Dahlan Ponorogo Shodiq Zaky Mubarok mengungkapkan, ini merupakan awal bagi Ridho dan membuka jalan informasi beasiswa untuk adik-adiknya di ponpes. "Semoga nantinya ada Ridho yang lain yang bisa sekolah ke luar negeri," singkatnya ketika ditemui di ponpes.
Ketua PDM Ponorogo Muh Syafruddin memberikan semangat khusus bagi Ridho, pantang pulang sebelum gelar S3 (doktor). Itu energi dan magnet untuk semua masyarakat melirik ponpes tahfidz. Syafruddin berharap Ridho bersungguh-sungguh dan mampu mencetak prestasi. "Supaya kampus melirik dan memberi beasiswa dari santri ponpes tahfidz ini," pungkasnya. ***(kid) Editor : Hengky Ristanto