--------------------------------------------------------------
SUASANA Masjid Agung Baitul Hakim sore itu terlihat mulai ramai jemaah. Mereka menunggu buka puasa sekaligus melaksanakan salat Maghrib berjamaah. Sementara, Sumanto bersama beberapa rekannya tampak sibuk menyiapkan takjil di serambi masjid.
Tiba saatnya azan Maghrib, Sumanto dengan ramah mengajak para jemaah mengambil takjil. Setelah itu, dia ganti menyiapkan peralatan seperti mic dan sajadah untuk salat berjamaah.
Keseharian Sumanto lekat dengan dengan Masjid Agung Baitul Hakim saat pria itu masih duduk di bangku SMP. Tepatnya pada 1977 silam. Kala itu dia tercatat sebagai anggota remaja masjid (remas) setempat. ‘’Kiai saya bilang jika ingin hidup tenang dan tenteram, dekatlah dengan masjid,’’ ujarnya.
Tempat tinggal Sumanto kala itu yang tidak jauh dari kompleks Masjid Agung Baitul Hakim membuatnya kerap menghabiskan waktu di masjid terbesar di Kota Madiun tersebut. Pun, nyaris setiap salat dia memilih melakukan di masjid itu. ‘’Jarang salat di rumah,’’ sebut pria 61 tahun itu.
Setelah menyandang gelar sarjana ilmu olahraga, Sumanto gabung sebagai takmir Masjid Agung Baitul Hakim. Selain itu, banyak berkontribusi dalam pembangunan masjid di beberapa daerah. Salah satunya di Maospati, Magetan.
Mengingat bujet yang terbatas, panitia pembangunan masjid tersebut kala itu harus mencari sumbangan di berbagai daerah Madiun Raya. Sejak itu, Sumanto semakin aktif terlibat pembangunan puluhan masjid lainnya. ‘’Lebih dari 50 masjid yang sudah terbangun,’’ ujar pensiunan guru olahraga tersebut. *** (mg4/isd) Editor : Hengky Ristanto