-------------------------------------------------------------
SUASANA sebuah panti asuhan di Jalan Dadali, Nambangan Kidul, Manguharjo, itu tampak ramai. Beberapa penghuni panti tampak sedang mengemas dodol. Sementara, Nafifah sibuk di dapur mengolah jajanan tradisional tersebut.
Beberapa bahan yang telah disiapkan seperti gula, tape singkong, dan air di wajan besar diaduk hingga bercampur merata. Proses itu membutuhkan waktu hingga berjam-jam sampai adonan membentuk seperti karamel dengan warna khas.
Nafifah menekuni usaha dodol sejak 2010 silam. Awalnya sekadar iseng untuk konsumsi keluarga. Namun, kerabat maupun tamu panti asuhan miliknya ternyata juga memuji hasil olahannya itu. ‘’Akhirnya saya rutin berproduksi,’’ ujarnya.
Sayangnya, kala itu dodol buatan Nafifah hanya bisa bertahan tiga hari. Setelah bereksperimen selama lima tahun barulah perempuan itu menemukan formula yang tepat hingga produknya mampu bertahan sampai satu tahun. ‘’Tepungnya saya ganti tape singkong dengan takaran khusus,’’ ungkapnya.
Kini, produk dodol buatan Nafifah sudah merambah lima toko oleh-oleh dan minimarket di Kota Madiun. Pun, lewat pemasaran online mampu merambah beberapa daerah seperti Kediri, Sumenep, Probolinggo, Jakarta, hingga Hongkong.
Belakangan Nafifah melakukan diversifikasi produk dengan membuat jenis jajanan lainnya seperti madumongso, bandrek, dan kue gapit. ‘’Pengolahnya dibantu teman-teman di yayasan,’’ tuturnya. *** (mg4/isd) Editor : Hengky Ristanto