Jawa Pos Radar Madiun - Wajahnya tak rupawan, tubuhnya tak tinggi tegap, bahkan asal-usulnya tak banyak diketahui. Ia bukan bangsawan, bukan pula pedagang kaya raya.
Tapi Julaibib, sahabat Nabi Muhammad SAW, justru menjadi kisah yang menggugah hati dan penuh hikmah.
Tak ada yang mengenal jelas nasabnya. Penampilannya yang tak menarik membuat orang-orang enggan mendekat. Bahkan sebagian menganggapnya tak layak diperhitungkan.
Namun, di balik fisik yang tak sempurna itu, Julaibib memiliki sesuatu yang sangat berharga: ketulusan iman dan keberanian luar biasa.
Setiap salat, Julaibib selalu berada di barisan terdepan. Ia pun tak pernah absen saat panggilan jihad datang. Sayangnya, ia tetap tak dipandang oleh banyak orang. Tapi tidak oleh Rasulullah SAW.
Suatu hari, Nabi Muhammad SAW menegur Julaibib yang sedang berada di selasar Masjid Nabawi. "Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?" tanya Nabi lembut.
Dengan senyum getir, Julaibib menjawab, “Siapa yang mau menikahkan putrinya dengan orang seperti aku, wahai Rasulullah?”
Tak menyerah, Rasulullah kembali bertanya hal serupa selama tiga hari berturut-turut.
Hingga pada hari ketiga, Rasulullah menggandeng Julaibib ke rumah salah satu tokoh Ansar. Tuan rumah pun menyambut penuh hormat.
"Aku ingin menikahkan putri kalian," ujar Rasulullah. "Namun bukan untukku, melainkan untuk Julaibib."
Seketika suasana berubah hening. Sang ayah terkejut. Sang ibu menolak halus, “Dengan Julaibib? Pemuda miskin, tak bersilsilah, tak berkabilah?”
Namun, dari balik tirai, sang anak perempuan bersuara. “Jika ini perintah Rasulullah, aku terima.”
Perempuan salehah itu pun menikah dengan Julaibib. Meski hanya sebentar menikmati kehidupan rumah tangga, kisah cinta mereka kekal dikenang.
Sebab, tak lama setelah menikah, Julaibib gugur di medan perang.
Rasulullah SAW sendiri yang mencarinya. “Apakah kalian kehilangan seseorang?” tanya beliau kepada para sahabat. “Tidak, ya Rasulullah,” jawab mereka.
Hingga akhirnya, mereka menyadari: Julaibib belum ditemukan. Ia ditemukan gugur dengan luka di sekujur tubuh dan dikelilingi tujuh mayat musuh yang telah ia kalahkan.
Rasulullah SAW menangis. Beliau sendiri yang mengangkat jenazahnya, mensalatinya, dan memakamkannya.
“Julaibib, kini engkau lebih diperhatikan oleh penduduk langit daripada penduduk bumi,” ujar Nabi penuh haru.
Julaibib mungkin tak dikenal di dunia. Tapi di akhirat, ia dirindukan para bidadari surga. (her)
Editor : Hengky Ristanto