Jawa Pos Radar Madiun – Kecintaan Natalia Desi Sri Utami terhadap seni tradisi tumbuh sejak kecil.
Warga Desa Wayut, Jiwan, itu sudah menekuni jatilan sejak kelas III SD.
Ketekunan itu tak lepas dari ibunya, Umi Hidayati, yang juga penari.
’’Karena Ibu jadil, akhirnya saya ikut belajar. Apalagi keluarga punya grup reog sendiri. Jadi setiap ada job, saya ikut tampil,’’ ujar Natalia.
Sejak kelas I SMP, Natalia mulai menerima job luar daerah.
Ia bergabung dengan grup reog Singo Wono Lawu dan sering pentas di Madiun, Ponorogo, Kediri, Ngawi, Magetan, Nganjuk, hingga Pacitan.
Meski tanpa pelatihan formal, Natalia belajar secara otodidak.
’’Cukup lihat Ibu menari, lalu menirukan. Kadang diarahkan sedikit-sedikit,’’ ungkap lulusan SMKN 5 Madiun 2025 itu.
Salah satu pengalaman berkesan adalah saat ikut Grebeg Suro ketika kelas VI SD.
’’Senang karena banyak pengalaman dan teman baru,’’ kenangnya.
Soal jadwal pentas, menyesuaikan acara.
’’Kalau manten bisa jam 10.00, kalau jalan santai jam 07.00. Tapi paling sering malam hari,’’ ujar anak pertama pasangan Rohmat Indharto dan Umi Hidayati itu.
Meski sempat bercita-cita jadi pramugari, Natalia kini mantap menekuni seni.
’’Harapan saya anak-anak muda tetap melestarikan budaya. Jangan salah menilai reog atau jatilan. Itu murni kesenian, bukan hal negatif,’’ tuturnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto