Jawa Pos Radar Madiun - Ramadan selalu menjadi momen istimewa.
Namun bagi ibu menyusui (busui), muncul pertanyaan besar: apakah ibu menyusui boleh berpuasa? Apakah puasa memengaruhi produksi ASI dan kesehatan bayi?
Dalam syariat Islam, ibu menyusui termasuk golongan yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.
Tetapi banyak ibu tetap ingin menjalankan ibadah ini. Lalu, bagaimana dari sisi medis?
Apakah Ibu Menyusui Aman Berpuasa?
Secara umum, ibu menyusui boleh berpuasa selama kondisi tubuh sehat dan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kekhawatiran utama biasanya soal produksi ASI. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa tidak secara signifikan memengaruhi komposisi makronutrien ASI seperti energi, protein, karbohidrat, dan lemak.
Salah satu studi berjudul Effect of Ramadan Fasting on Breast Milk (2023) yang dipublikasikan di PubMed melibatkan 21 ibu menyusui yang berpuasa dan 27 ibu yang tidak berpuasa.
Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kandungan nutrisi ASI maupun berat badan bayi.
Namun, puasa dapat memengaruhi kadar mikronutrien tertentu seperti seng, kalium, dan magnesium jika asupan makanan ibu tidak mencukupi.
Artinya, kualitas gizi saat sahur dan berbuka menjadi faktor penentu.
Syarat Aman Busui Berpuasa
Agar tetap aman, ibu menyusui perlu memastikan:
-
Tubuh dalam kondisi sehat dan tidak anemia berat.
-
Asupan gizi seimbang saat sahur dan berbuka.
-
Kebutuhan cairan terpenuhi.
-
Istirahat cukup.
-
Kondisi bayi tetap stabil dan berat badan naik sesuai grafik.
Jika bayi lahir prematur, memiliki masalah kesehatan, atau ibu memiliki kondisi medis tertentu, konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat dianjurkan sebelum berpuasa.
Tips Puasa Aman untuk Ibu Menyusui
1. Penuhi Kebutuhan Cairan
Dehidrasi adalah risiko utama. Ibu menyusui dianjurkan minum minimal 8 gelas air putih yang dibagi:
-
2 gelas saat sahur
-
2 gelas saat berbuka
-
4 gelas di malam hari
Tambahkan makanan tinggi air seperti sup, semangka, jeruk, atau stroberi untuk membantu hidrasi.
2. Jaga Asupan Nutrisi Seimbang
Saat sahur, pilih makanan tinggi protein dan serat agar energi bertahan lebih lama. Beberapa pilihan yang baik untuk busui:
-
Brokoli dan bayam
-
Daun katuk
-
Telur
-
Salmon
-
Daging tanpa lemak
-
Kacang merah
Tetap makan tiga kali: sahur, berbuka, dan makan malam setelah tarawih. Bila perlu, pertimbangkan suplemen atas saran dokter.
3. Istirahat yang Cukup
Kurang tidur dapat menurunkan stamina dan memengaruhi produksi ASI. Usahakan tidur minimal 7 jam per hari dan tambahkan tidur siang 30–60 menit.
4. Lakukan Aktivitas Ringan
Olahraga ringan seperti jalan santai atau peregangan membantu menjaga kebugaran. Hindari aktivitas berat agar tidak cepat lelah dan dehidrasi.
Tanda Peringatan yang Harus Diwaspadai
Meski ibu menyusui boleh berpuasa, ada kondisi yang mengharuskan puasa dihentikan.
Tanda Dehidrasi pada Ibu:
-
Pusing dan lemas
-
Frekuensi buang air kecil menurun
-
Urine berwarna gelap
-
Tubuh sangat lelah
Jika muncul gejala ini, sebaiknya segera berbuka dan minum cairan elektrolit.
Tanda Bayi Kurang ASI:
-
Berat badan bayi menurun
-
Popok basah berkurang
-
Bayi tampak tidak puas setelah menyusu
-
Lebih rewel dari biasanya
Jika tanda-tanda tersebut muncul, pertimbangkan untuk membatalkan puasa dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Ibu menyusui boleh berpuasa selama kondisi tubuh sehat dan kebutuhan nutrisi serta cairan terpenuhi. Berdasarkan penelitian, puasa tidak secara signifikan menurunkan kualitas maupun jumlah ASI jika asupan ibu cukup.
Yang paling penting adalah mendengarkan sinyal tubuh dan memperhatikan respons bayi. Jika muncul tanda bahaya, jangan ragu membatalkan puasa. Dalam Islam, kesehatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas utama. (fin)
Editor : AA Arsyadani