-------------
Bunyi gembrung dan kendang terdengar dari dalam sebuah masjid di Jalan Sikatan, Gang Perkutut, Kelurahan Nambangan Lor, Manguharjo, Kota Madiun, malam itu. Nuansa religius semakin terasa saat beberapa vokalis melantunkan syair berbahasa Arab dengan nada mirip langgam dan mocopat.
Di Kelurahan Nambangan Lor saat ini terdapat dua kelompok seni gembrung. Satu beranggotakan pria dan satunya lagi perempuan. ‘’Yang laki-laki namanya Roso Mulyo, sedangkan yang grup perempuan Ngadi Roso,’’ kata Dina Aryati, salah seorang pengurus grup gembrungan kelurahan setempat.
Awalnya, kelompok seni gembrung itu biasa membawakan lagu yang lazim dibawakan dalam pertunjukan gembrungan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka bertransformasi menjadi grup gembrung semi modern. Yakni, memasukkan unsur kekinian, misalnya tembang campursari. Meski begitu, pakem musik gembrung tidak serta merta hilang. ‘’Salawat qataman nabi tetap ada,’’ ujarnya.
Belakangan, Dina bersama sejumlah rekannya coba mengajak kalangan anak muda Nambangan Lor dan Pandean untuk membentuk kelompok seni gembrung. ‘’Penguasaan alat gembrungan tidak kalah rumit dengan instrumen modern seperti gitar dan drum, karena butuh keseimbangan antara gerak tangan, kaki, agar menghasilkan irama yang pas,’’ ungkapnya. *** (isd) Editor : Hengky Ristanto