Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Harga BBM Non-Subsidi Berpotensi Naik Rp 2.000 per Liter Besok 1 April, Imbas Konflik Timur Tengah

Mizan Ahsani • Selasa, 31 Maret 2026 | 12:53 WIB
Ilustrasi spbu
Ilustrasi spbu

Jawa Pos Radar Madiun - Tekanan pada sektor energi nasional kian nyata menjelang pergantian bulan. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi diprediksi bakal mengalami kenaikan signifikan per 1 April 2026. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus meluas, hingga menyeret harga minyak mentah dunia ke level tertingginya tahun ini.

Berdasarkan data pasar pada Senin (30/3), harga minyak jenis Brent telah melesat ke angka US$ 116,6 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga menembus level psikologis di angka US$ 102,88 per barel. Tren kenaikan tajam ini tercatat sangat signifikan jika dibandingkan posisi pekan lalu yang masih berada di kisaran US$ 99 per barel.

Prediksi Kenaikan Pertamax dkk

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memberikan proyeksi yang cukup mengkhawatirkan bagi para pengguna BBM non-subsidi. Menurutnya, jenis BBM seperti Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi mengalami kenaikan harga di kisaran Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per liter.

"Kenaikan BBM non-subsidi ini terjadi karena kompensasi pemerintah ke Pertamina melonjak signifikan," ujar Bhima dalam keterangannya, Senin (30/3).

Ia menilai, tanpa adanya realokasi anggaran yang besar dalam APBN, selisih antara harga keekonomian dan harga jual akan semakin sulit ditanggung. Jika harga tidak segera disesuaikan, risikonya PT Pertamina (Persero) harus menanggung beban arus kas (cashflow) yang berat atau bleeding.

Dampak Berantai dan Risiko Inflasi

Kenaikan harga BBM ini diprediksi tidak hanya berhenti pada angka di papan SPBU. Bhima mengingatkan adanya efek domino yang bisa memicu kenaikan inflasi, terutama pada komoditas pangan. Transmisi kenaikan biaya transportasi akan langsung berdampak pada harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional.

"Inflasi bisa tembus 6-7 persen di bulan April. Sementara Indonesia belum punya mitigasi krisis energi dibanding negara lainnya," tegas Bhima. Ia bahkan menjuluki situasi saat ini sebagai Quiet before the Storm atau ketenangan sebelum badai, karena kebijakan yang dianggap masih terlalu santai dalam menghadapi krisis energi global.

Menanti Pengumuman Resmi

Meski proyeksi kenaikan sudah menguat seiring lonjakan harga minyak dunia yang bertahan di kisaran US$ 90 hingga US$ 115 per barel, masyarakat masih menunggu rilis resmi dari Pertamina yang biasanya diumumkan menjelang tengah malam nanti.

Bagi pengendara di wilayah Madiun Raya, disarankan untuk melakukan pengecekan secara berkala. Jika penyesuaian harga benar-benar dilakukan, maka pergeseran angka pada mesin pompa SPBU akan mulai berlaku efektif tepat pada pukul 00.00 WIB, Selasa (1/4).

(*)

* Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.

Editor : Mizan Ahsani
#kenaikan bbm #bahan bakar minyak #bbm langka #harga bbm