Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Masuk Mesin Waktu, Bawa Gaji UMR 2026: Bisa Borong 1000 Slop Rokok, Auto Jadi Juragan Tembakau

Satrio Jati • Rabu, 1 April 2026 | 21:28 WIB
Suasana jalanan Jakarta tahun 1980-an. (JAWA POS)
Suasana jalanan Jakarta tahun 1980-an. (JAWA POS)

Jawa Pos Radar Madiun - Bayangkan jika Anda membawa pendapatan UMR saat ini (asumsi rata-rata Rp4.000.000) untuk berbelanja rokok di tahun 1980.

Anda tidak akan lagi disebut "perokok eceran", melainkan "juragan rokok" atau distributor dadakan yang sanggup memenuhi satu gudang kecil.

Pada era 80-an, harga rokok belum "tercekik" tarif cukai setinggi tahun 2026.

Persaingan merek besar seperti Gudang Garam, Djarum, dan Sampoerna saat itu masih berada di level harga yang sangat merakyat bagi pemegang uang jutaan Rupiah.

Estimasi Harga Rokok Era 1980-an

Sebagai perbandingan, berikut adalah kisaran harga eceran rokok di Indonesia sekitar tahun 1980:

Baca Juga: Laptop Murah di Bawah 5 Jutaan untuk WFH 2026: Hemat, Bertenaga, dan Bebas Drama!

Simulasi Daya Beli: UMR Rp4 Juta di Tahun 1980

Jika Anda membawa uang Rp4 juta ke masa itu, berikut adalah kekuatan belanja yang Anda miliki:

1. Volume Pembelian Skala Gudang

Untuk rokok filter kelas menengah seharga Rp400, Anda bisa membawa pulang 10.000 bungkus atau sekitar 1.000 slop sekaligus.

Jika Anda lebih memilih kretek tangan seharga Rp150, uang UMR Anda sanggup menebus lebih dari 26.000 bungkus.

2. "Raja Ketengan" Tanpa Batas

Budaya "ngutang" atau membeli ketengan per batang sangat lazim di tahun 80-an dengan harga Rp10 hingga Rp25 per batang.

Dengan uang Rp4 juta, Anda memiliki cadangan "ketengan" yang nyaris tak terbatas bagi warga sekampung.

Baca Juga: 5 Rekomendasi HP Xiaomi RAM 8 GB Terbaik, Tangguh untuk Gaming dan Editing Video

3. Kesaktian Koin Rp100

Di tahun 1980, uang logam Rp100 memiliki nilai yang sangat kuat. Hanya dengan satu koin tersebut, Anda sudah bisa mendapatkan 4 hingga 5 batang rokok kualitas premium.

Namun, perlu diingat bahwa meski secara finansial Anda sangat berkuasa, kesehatan tetaplah aset paling mahal yang tidak mengenal inflasi.

Melimpahnya stok rokok di tangan tidak mengubah fakta bahwa paparan asap tembakau tetap memiliki risiko kesehatan jangka panjang.

Perbandingan ini menunjukkan betapa masifnya kenaikan cukai rokok selama 40 tahun terakhir sebagai instrumen pengendali konsumsi.

Di tahun 1980, rokok adalah komoditas murah meriah, sementara di tahun 2026, rokok telah bertransformasi menjadi barang mewah yang menyumbang pendapatan negara cukup signifikan. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#1980an #gaji umr #2026 #simulasi