Jawa Pos Radar Madiun - Selama ini, banyak orang tua beranggapan bahwa ancaman kekerasan seksual pada anak hanya datang dari orang dewasa yang tidak dikenal.
Namun, fakta terbaru menunjukkan adanya ancaman yang lebih terselubung: Child Grooming dalam relasi sebaya.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Ariani, Sp.A(K), mengungkapkan, tindakan manipulasi psikologis ini marak terjadi di kalangan anak dan remaja.
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming adalah upaya manipulasi psikologis untuk melakukan eksploitasi seksual dengan cara membangun kepercayaan dan ikatan emosional yang kuat dengan anak.
Menurut dr. Ariani, dalam relasi sebaya, pelaku biasanya berusia sedikit lebih tua atau memiliki kepribadian yang lebih dominan. Misalnya:
-
Hubungan antara siswa SMA dan SMP.
-
Hubungan antara siswa SMP dan SD.
-
Hubungan pertemanan online dengan rentang usia 11 hingga 15 tahun.
"Ini sering terlewat oleh pengawasan orang tua karena dianggap hanya pertemanan biasa," kata dr. Ariani.
Modus Operandi: Dari Pujian hingga Ancaman
Kejahatan ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan yang sangat rapi:
-
Pelaku memberikan perhatian lebih, pujian, atau membuat korban merasa istimewa.
-
Korban yang butuh pengakuan secara emosional akan mulai bergantung pada pelaku.
-
Di era saat ini, pelaku sering meminta foto pribadi (seperti foto saat mandi) dengan dalih pembuktian kasih sayang atau pacaran.
-
Setelah mendapatkan foto atau rahasia korban, pelaku akan mengancam untuk menyebarkannya jika keinginan mereka (termasuk kekerasan seksual fisik) tidak dituruti.
Baca Juga: Rekomendasi HP 512 GB Terbaik 2026: Penyimpanan Lega, Nyaman untuk Kebutuhan Harian
Mengapa Relasi Sebaya Bisa Berbahaya?
Ketimpangan kekuasaan tidak selalu soal usia dewasa vs anak. Dalam dunia remaja, ketimpangan bisa terjadi karena:
-
Status kakak kelas vs adik kelas.
-
Pelaku yang memiliki uang atau fasilitas lebih.
-
Pelaku mungkin pernah menjadi korban grooming sebelumnya dan kini mempraktikkan hal yang sama kepada orang lain.
Langkah Pencegahan bagi Orang Tua
IDAI menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan edukasi mengenai hubungan yang sehat. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan:
-
Ajarkan anak untuk mengenali tanda-mana manipulasi. Jika sebuah hubungan membuat mereka merasa tertekan, takut, atau dipaksa melakukan hal yang melanggar privasi, itu adalah hubungan yang tidak sehat.
-
Tetap waspada jika anak memiliki hubungan yang sangat intens dengan teman online atau kakak kelas yang usianya jauh di atas mereka.
-
Sejalan dengan penerapan PP Tunas, orang tua harus aktif memantau interaksi digital anak untuk menekan risiko paparan terhadap predator.
Child grooming adalah ancaman nyata yang bisa bersembunyi di balik status "teman sekolah" atau "pacar".
Membangun komunikasi yang terbuka dengan anak adalah kunci utama agar mereka berani melapor jika merasakan ada sesuatu yang janggal dalam hubungan pertemanannya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani