Jawa Pos Radar Madiun - Untuk menyiasati lonjakan biaya komponen memori, para produsen smartphone di tahun 2026 mulai melakukan strategi "pemangkasan halus" pada produk terbaru mereka.
Fenomena ini berdampak pada hampir semua kelas ponsel, mulai dari entry-level hingga segmen premium.
Berikut adalah rincian sektor yang paling terdampak oleh tren penurunan spesifikasi tersebut:
1. Segmen Murah (Entry-Level)
Ponsel di rentang Rp1 juta – Rp2 jutaan adalah korban utama karena margin keuntungannya yang sangat tipis.
-
Komponen Terdampak: RAM kembali diturunkan ke kapasitas 4GB dari standar sebelumnya 6GB/8GB. Penggunaan teknologi penyimpanan juga kembali ke eMMC yang lebih lambat dibandingkan UFS.
-
Layar: Panel AMOLED mulai ditinggalkan dan kembali ke LCD standar dengan tingkat kecerahan yang lebih rendah.
2. Segmen Menengah (Mid-Range)
Pada kelas ini, vendor melakukan downgrade yang lebih samar agar harga terlihat tetap stabil dibandingkan model tahun lalu.
-
Material Bodi: Penggunaan bahan kaca atau metal beralih kembali ke plastik polikarbonat.
-
Kamera: Lensa ultrawide atau lensa telephoto fisik sering kali dihilangkan, diganti dengan sensor resolusi tinggi namun hanya mengandalkan zoom hybrid.
-
Kecepatan Cas: Modul pengisian daya cepat (fast charging) cenderung stagnan atau bahkan sedikit diturunkan untuk menekan biaya modul sirkuit.
Baca Juga: Efek Krisis Memori Berlanjut di 2026: Harga HP Naik, tapi Spesifikasinya Turun?
3. Segmen Premium
Meskipun lebih tahan banting, merek besar seperti Apple dan Samsung Seri S tetap melakukan penyesuaian strategi.
-
Strategi Chipset: Model standar sering kali masih menggunakan chipset generasi tahun lalu, sementara chipset terbaru hanya dikhususkan untuk varian "Pro" atau "Ultra".
-
Penyederhanaan Varian: Menghilangkan opsi memori menengah untuk mendorong konsumen beralih ke varian yang lebih mahal. (rio)