Jawa Pos Radar Madiun- Menjalani pola asuh bersama setelah perceraian bukan perkara mudah. Di awal, banyak pasangan terlihat mampu bekerja sama dengan baik demi anak. Namun seiring waktu, konflik lama kerap muncul kembali dan membuat hubungan co-parenting menjadi tidak sehat.
Fenomena ini cukup umum terjadi, terutama ketika komunikasi dan emosi belum sepenuhnya stabil.
Apa Itu Co-Parenting?
Co-Parenting adalah pola pengasuhan anak yang dilakukan oleh kedua orang tua meskipun mereka sudah tidak lagi hidup bersama. Tujuan utamanya adalah memastikan anak tetap mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua belah pihak.
Namun dalam praktiknya, menjaga keseimbangan ini sering kali menjadi tantangan besar.
Penyebab Co-Parenting Sering Gagal
Ada beberapa faktor yang membuat hubungan co-parenting tidak berjalan lancar:
1. Konflik Lama yang Belum Selesai
Perceraian tidak selalu mengakhiri masalah. Luka emosional yang belum sembuh bisa memicu pertengkaran baru saat berinteraksi kembali.
2. Komunikasi yang Buruk
Kurangnya komunikasi yang sehat membuat kesalahpahaman mudah terjadi, terutama dalam hal pengambilan keputusan terkait anak.
3. Ego dan Perbedaan Prinsip
Perbedaan cara mendidik anak sering menimbulkan perdebatan. Jika masing-masing pihak mempertahankan ego, kerja sama akan sulit terwujud.
4. Campur Tangan Pihak Ketiga
Kehadiran pasangan baru atau keluarga besar kadang memperkeruh situasi, terutama jika tidak ada batasan yang jelas.
5. Kurangnya Komitmen
Co-parenting membutuhkan konsistensi dan komitmen tinggi. Jika salah satu pihak tidak serius, hubungan ini mudah goyah.
Baca Juga: Xiaomi 17 Max Resmi Hadir, Phablet Layar 6,9 Inci dengan Kamera 200MP Canggih
Dampak pada Anak
Kegagalan Co-Parenting bisa berdampak langsung pada kondisi psikologis anak. Mereka bisa merasa bingung, tertekan, bahkan kehilangan rasa aman.
Anak membutuhkan stabilitas emosional, sehingga konflik antara orang tua dapat memengaruhi tumbuh kembangnya.
Cara Menjaga Co-Parenting Tetap Sehat
Agar hubungan tetap berjalan baik, beberapa langkah berikut bisa diterapkan:
Fokus pada kebutuhan anak, bukan konflik pribadi
Bangun komunikasi yang terbuka dan sopan
Buat kesepakatan yang jelas terkait pengasuhan
Kendalikan emosi saat berinteraksi
Hindari melibatkan anak dalam konflik
Dengan pendekatan yang tepat, kerja sama tetap bisa berjalan meskipun hubungan sebagai pasangan telah berakhir.
Co-parenting setelah perceraian memang penuh tantangan, terutama jika konflik lama belum terselesaikan. Namun dengan komunikasi yang baik, komitmen, dan fokus pada kepentingan anak, hubungan ini tetap bisa dijalankan secara sehat dan harmonis.