Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Waspadai Risiko Kesehatan: Mengapa Konsumsi Daging Biawak Tidak Direkomendasikan?

Bagas Bimantara • Selasa, 21 April 2026 | 12:16 WIB
Daging biawak.
Daging biawak.

Jawa Pos Radar Madiun – Di beberapa daerah, mengonsumsi daging biawak terkadang masih dilakukan, baik sebagai bagian dari kuliner ekstrem maupun karena kepercayaan akan khasiat pengobatan tradisional. Namun, memasuki tahun 2026, para ahli medis dan praktisi kesehatan memberikan peringatan keras. Mengonsumsi daging reptil liar ini dinilai sebagai praktik yang berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwa dan tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Di balik klaim manfaatnya, daging biawak menyimpan ancaman penyakit zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia) yang sangat serius.

1. Risiko Medis: Ancaman Parasit dan Bakteri

Daging biawak bukanlah sumber protein yang bersih. Sebagai hewan pemangsa dan pemakan bangkai, biawak menjadi inang bagi berbagai mikroorganisme berbahaya:

Baca Juga: Aman atau Tidak Makan Daging Kuda? Ini Penjelasan Medis dan Hukum Islam

Infeksi Cacing Pita (Sparganosis): Biawak sering kali mengandung larva cacing pita Spirometra spp. Jika daging tidak dimasak dengan sempurna atau terjadi kontaminasi saat pengolahan, larva ini dapat masuk ke tubuh manusia, berpindah ke bawah kulit, otot, bahkan hingga ke jaringan otak.

Kontaminasi Bakteri Patogen: Risiko paparan bakteri seperti Salmonella, Vibrio, dan Mycobacterium sangatlah tinggi. Infeksi ini dapat menyebabkan keracunan makanan akut, diare berdarah, hingga kegagalan organ dalam kasus yang parah.

Paparan Biotoksin: Beberapa penelitian menunjukkan adanya akumulasi biotoksin pada jaringan tubuh biawak yang dapat mengganggu sistem saraf manusia.

2. Klaim Manfaat vs Fakta Ilmiah

Banyak orang mengonsumsi daging atau minyak biawak karena percaya dapat menyembuhkan penyakit kulit, asma, atau meningkatkan stamina. Namun, secara medis, hal ini adalah mitos.

Belum Ada Bukti Klinis: Hingga saat ini, tidak ada satu pun jurnal medis kredibel yang membuktikan bahwa daging biawak efektif menyembuhkan penyakit kulit.

Risiko Melampaui Manfaat: Para ahli menegaskan bahwa protein yang ditemukan pada biawak tidak berbeda dengan protein pada ayam atau ikan. Memilih biawak sebagai "obat" justru menghadapkan tubuh pada risiko infeksi parasit yang jauh lebih merugikan daripada masalah kulit awal.

3. Pandangan Hukum Islam: Biawak vs Dhabb

Penting bagi masyarakat muslim untuk membedakan antara biawak (Monitor Lizard) dengan Dhabb (Kadal Gurun), karena keduanya sering dianggap sama padahal sangat berbeda:

Biawak (Haram): Mayoritas ulama di Indonesia mengategorikan biawak sebagai hewan Haram. Alasannya, biawak termasuk hewan buas (khaba’its) yang bertaring, memiliki kuku tajam untuk memangsa, dan merupakan hewan dua alam atau pemakan bangkai.

Dhabb (Halal): Dhabb adalah kadal gurun yang hanya hidup di darat (padang pasir), hanya memakan tumbuh-tumbuhan (herbiwora), dan tidak bertaring. Inilah hewan yang dalam sejarah Islam pernah dibiarkan oleh Rasulullah SAW untuk dikonsumsi oleh para sahabat.

Mengonsumsi daging biawak adalah tindakan yang tidak sebanding antara sensasi atau mitos manfaatnya dengan risiko penyakit yang mengintai. Ancaman parasit Spirometra dan infeksi bakteri menjadikan daging ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Para ahli menyarankan untuk tetap mengonsumsi sumber protein hewani yang sudah terjamin kebersihan dan kehalalannya, seperti sapi, ayam, atau ikan budidaya. 

Editor : Nur Wachid
#daging biawak #bahaya makan biawak #risiko kesehatan biawak #parasit biawak #hukum makan biawak