Jawa Pos Radar Madiun - Di era media sosial seperti sekarang, tren foto prewedding atau prewed seolah menjadi agenda wajib bagi pasangan yang akan menikah.
Mulai dari konsep outdoor yang megah hingga sesi indoor yang minimalis, semuanya berlomba menyajikan visual terbaik.
Namun, di balik balutan busana indah dan latar belakang yang estetik, ada esensi yang sering kali terlupakan.
Membangun "Chemistry" dan Komunikasi
Secara teknis, foto prewed memang digunakan untuk kebutuhan undangan atau dekorasi resepsi. Namun secara psikologis, sesi ini adalah sarana pasangan untuk membangun kedekatan emosional.
Dalam proses menentukan tema, memilih lokasi, hingga mengatur anggaran, pasangan dipaksa untuk belajar berkomunikasi secara intens dan menyamakan persepsi.
Kerja sama ini menjadi simulasi kecil sebelum menghadapi konflik yang lebih nyata dalam kehidupan rumah tangga.
Baca Juga: Suvenir Sultan, Tamu Pernikahan El-Syifa Pulang Bawa Emas dan Tumbler Branded
Simbolisme Perjalanan Cinta
Banyak pasangan memilih konsep yang sangat personal—misalnya lokasi tempat pertama kali bertemu atau hobi yang dilakukan bersama.
Hal ini menjadikan prewedding sebagai representasi kisah cinta mereka. Foto tersebut bukan hanya sekadar gambar, melainkan sebuah narasi visual tentang karakter dan identitas mereka sebagai pasangan.
Persiapan Mental Menjadi Pusat Perhatian
Bagi banyak orang, berpose di depan kamera atau menjadi pusat perhatian bisa menimbulkan rasa gugup. Sesi prewed membantu pasangan untuk lebih percaya diri.
Ini adalah bentuk latihan mental agar saat hari pernikahan tiba, pasangan tidak lagi merasa kaku atau canggung di atas pelaminan saat ribuan pasang mata memperhatikan.
Fleksibilitas: Bukan Kewajiban, Tapi Pilihan
Satu hal yang perlu ditekankan adalah prewedding bukanlah sebuah kewajiban. Pernikahan tetap sah dan bermakna tanpa sesi foto ini. Kuncinya adalah menyesuaikan dengan kondisi keuangan dan kebutuhan masing-masing.
Kesimpulan Pada akhirnya, sesi prewedding adalah tentang merayakan kebersamaan sebelum memasuki babak baru.
Foto yang indah adalah bonus, namun proses saling memahami dan menghargai selama persiapanlah yang menjadi nilai paling berharga. (naz)
Editor : Mizan Ahsani