Jawa Pos Radar Madiun - Menguji sepeda di trek aspal tentu berbeda dengan membawanya melintasi medan ekstrem antarnegara.
Petualang sepeda, Codey Orgill, membuktikan kapasitas Polygon Tambora G8X dengan membawanya bikepacking melintasi Tiongkok dan Vietnam.
Dalam pengujian dunia nyata tersebut, Codey menemukan bahwa fitur geometri ganda (flip chip) pada Tambora G8X sangat tak ternilai.
Sepeda gravel ini bisa dipacu kencang di jalanan mulus, namun tetap stabil saat diajak melibas rute touring.
Meski memuji performanya, Codey secara objektif juga menyoroti kelemahan sepeda ini ketika didorong melampaui batas desainnya.
Menurutnya, karakteristik sepeda berubah drastis menjadi lebih sulit diprediksi ketika dimuati barang bawaan yang terlalu berat.
Lebih lanjut, ia menyoroti isu teknis pada bagian depan sepeda.
"Saya menemukan masalah yang cukup mengkhawatirkan, as roda depan (front thru axle 12mm) longgar beberapa kali meskipun sudah dikencangkan, terutama saat membawa beban berat di bagian depan," ungkap Codey.
Untuk mengatasi hal ini, ia merekomendasikan penggunaan lem baut (thread-locking compound) dan pengecekan harian jika sepeda digunakan untuk ekspedisi bermuatan penuh.
Sebagai mantan pengguna setia sepeda baja (steel), Codey menyimpulkan beberapa keunggulan mutlak Tambora G8X dibandingkan sepeda lamanya:
-
Bobot Signifikan: Jauh lebih ringan (9,6 kg) dibandingkan sepeda touring baja (13-15 kg).
-
Performa Tanjakan: Akselerasi jauh lebih instan.
-
Integrasi Modern: Perpindahan gigi nirkabel dan pengereman presisi.
Meski sepeda baja tetap unggul dalam hal daya tahan di kondisi ekstrem dan perbaikan di wilayah terpencil, Codey menegaskan bahwa Tambora G8X adalah pendefinisian ulang dari nilai sebuah sepeda gravel karbon.
"Sepeda ini sangat sempurna untuk bikepacking. Bagi yang ingin memiliki beberapa jenis sepeda dalam satu sepeda serbaguna tanpa harus menguras kantong, Tambora G8X wajib masuk daftar pertimbangan," pungkasnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani