Jawa Pos Radar Madiun - Pabrikan asal Amerika Serikat, yakni Cannondale, tak ketinggalan meramaikan segmen sepeda gravel dengan menghadirkan Cannondale Topstone Carbon 1 Lefty AXS.
Kendaraan roda dua ini lahir sebagai wujud interpretasi mutlak tentang bagaimana sebuah sepeda gravel sapu jagat yang ideal seharusnya dibangun.
Tidak sekadar menjanjikan kecepatan di lintasan lurus beraspal, sepeda ini dirancang khusus bagi para pesepeda yang haus akan petualangan ekstrem.
Mulai dari ajang balap gravel, penjelajahan singletrack ala sepeda gunung, hingga ekspedisi bikepacking lintas alam yang menjauhi hiruk-pikuk perkotaan.
Baca Juga: Warisi Taktik Bojan Hodak di Persib Bandung, Begini Rekor dan Filosofi Sepak Bola Igor Tolic
Di pasar Indonesia saat ini, sepeda berteknologi canggih ini dibanderol pada kisaran harga Rp 74.000.000 hingga Rp 87.000.000.
Daya Tarik Utama Sepeda Gravel Cannondale
Daya tarik dan keunggulan paling mencolok dari Cannondale Topstone edisi ini tentu saja terletak pada sektor redaman guncangannya yang membedakannya dari sepeda gravel pada umumnya.
Sepeda ini mengawinkan sasis utama karbon Proportional Response yang sangat responsif dengan sistem suspensi Kingpin di bagian belakang.
Baca Juga: Specialized Diverge 4 Pro Jadi Patokan Sepeda Gravel Berkualitas, Ini Sederet Fitur Mewahnya
Kingpin merupakan sebuah rekayasa struktur geometri tanpa poros yang dirancang agar rangka mampu melentur secara alami untuk meredam getaran jalan tanpa perlu menambah bobot suspensi mekanis yang berat.
Kelenturan sasis belakang yang magis ini kemudian bekerja secara harmonis dengan garpu depan Lefty Oliver generasi kedua yang ikonik karena hanya memiliki satu sisi lengan.
Garpu suspensi udara khusus gravel ini menawarkan jarak main sejauh 40 milimeter dan telah dibekali dengan fitur pengunci.
Hasil perpaduan dua sistem redaman ini sukses menyetrika segala ketidaksempurnaan permukaan jalan berbatu, menjaga traksi roda tetap menempel di tanah sekaligus melindungi tubuh pesepeda.
Cannondale mengambil langkah cerdas dengan mengadopsi konfigurasi penggerak nirkabel bergaya campuran atau yang kerap dijuluki sebagai mullet drivetrain dalam skena sepeda masa kini.
Baca Juga: Tamiya Legendaris yang Paling Laris Sepanjang Masa, Masih Diburu Kolektor hingga Sekarang
Konfigurasi buas ini memadukan sepasang tuas pemindah gigi SRAM Rival AXS khas sepeda balap jalan raya dengan ketangguhan pemindah gigi belakang SRAM GX Eagle AXS seri T-Type.
Perpaduan sistem elektronik 12 percepatan tanpa kabel kabel ini dikawinkan dengan kaset gigi belakang super besar dengan rentang rasio 10-52T.
Berkat rentang gir yang masif tersebut, pengendara akan mendapatkan tingkat presisi perpindahan gigi yang sangat renyah dan cepat di lintasan datar, sekaligus mendapatkan rasio kayuhan yang ringan di tanjakan curam.
Demi memastikan tingkat cengkeraman maksimal dan laju aerodinamis di permukaan alam yang tidak terprediksi, sektor kaki-kaki dipercayakan sepenuhnya pada set roda karbon Reserve 40/44 GR.
Baca Juga: Kenapa Polygon Tambora G7 Dijuluki Sepeda Bunglon? Simak Rahasia Teknologi di Baliknya
Pelek premium yang telah mengadopsi teknologi rekayasa angin turbulen ini dibungkus dengan ban WTB Vulpine bertapak 45 milimeter yang sudah siap sepenuhnya untuk dikonversi ke sistem tanpa ban dalam (tubeless ready).
Sementara itu, area kokpit ditata ergonomis menggunakan setir paduan aluminium Easton EA70 AX dengan sudut sebaran membelah sebesar 16 derajat yang dipadukan tiang sadel karbon fleksibel serta sadel Fizik Terra Argo X5.
Tidak ketinggalan, untuk mendukung gaya hidup bikepacking yang rapi, Cannondale turut menyematkan ruang penyimpanan internal tersembunyi di dalam tabung rangka bawah yang dinamakan StashPort.
Ruang rahasia ini dilengkapi dengan kantong khusus untuk menyimpan peralatan reparasi darurat atau perbekalan nutrisi secara aman tanpa merusak estetika aerodinamis rangka luar sepeda. (naz)
Editor : Mizan Ahsani