Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Fenomena WFC: Coffee Shop Kini Beralih Fungsi Jadi Co-Working Space Dadakan

Mizan Ahsani • Kamis, 4 Juni 2026 | 17:00 WIB
Ilustrasi WFC (Work From Cafe)
Ilustrasi WFC (Work From Cafe)

Jawa Pos Radar Madiun - Pemandangan di kedai kopi masa kini telah jauh berubah. Jika dulu gemerlap mesin espresso selalu diiringi dengan riuhnya obrolan santai pelanggan, kini suara ketikan keyboard laptop dan rapat virtual lewat Zoom lebih mendominasi. Coffee shop seakan telah sah beralih fungsi menjadi co-working space dadakan.

Pergeseran budaya nongkrong ini didorong kuat oleh tren bekerja jarak jauh (remote working) dan gaya hidup Work From Cafe (WFC) yang lekat dengan kalangan milenial dan Gen Z. Bagi pekerja lepas, insan kreatif, hingga mahasiswa, kedai kopi bukan lagi sekadar tempat mencari asupan kafein. Mereka datang untuk membeli "suasana" kerja yang nyaman, lengkap dengan fasilitas pendingin ruangan, Wi-Fi kencang, dan ketersediaan stopkontak.

Baca Juga: Tambang Sayutan Magetan Ditolak Warga, Perusahaan Beberkan Dokumen dan Berita Acara

Namun, perubahan perilaku konsumen ini membawa dilema tersendiri bagi para pelaku bisnis lokal. Di satu sisi, tren WFC membawa dampak positif. Kedai kopi menjadi selalu terlihat hidup dan ramai, bahkan di jam-jam sepi (off-peak hours) pada hari kerja. Keramaian ini secara psikologis mampu menarik pelanggan lain untuk datang.

Di sisi lain, durasi kunjungan yang sangat lama seringkali menjadi mimpi buruk bagi omzet harian. Fenomena pelanggan yang hanya memesan satu gelas es kopi susu namun memonopoli meja selama empat hingga lima jam adalah tantangan nyata. Tingkat perputaran meja (table turnover) yang rendah ini membuat pelanggan baru yang berpotensi membelanjakan uang lebih banyak kehabisan tempat duduk. Selain itu, beban operasional untuk listrik dan internet juga membengkak.

Baca Juga: Dukung Pembinaan Atlet, Indonesia Open 2026 Jadi Panggung Pengalaman Pemain Muda

Untuk menyiasati fenomena ini, pemilik bisnis dituntut lebih cerdik dalam beradaptasi. Banyak kedai kopi lokal yang mulai menerapkan strategi baru untuk menjaga margin keuntungan, mulai dari membatasi durasi akses Wi-Fi pada jam sibuk, memberlakukan batas minimum pemesanan (minimum spend) untuk penggunaan ruang VIP, hingga merancang tata letak yang memisahkan area sosial dan area fokus. Inovasi dan aturan yang jelas kini menjadi kunci agar bisnis tetap cuan tanpa harus mengusir kenyamanan para pekerja remote.(*)

 *Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura

Editor : Mizan Ahsani
#working space #coffe shop #WFC Gen Z #cafe