Jawa Pos Radar Madiun - Produsen otomotif raksasa asal Jepang, Honda, tengah menghadapi tantangan yang cukup berat di pasar otomotif China.
Penjualan kendaraan mereka tercatat merosot tajam hingga hampir 60 persen dalam kurun waktu empat tahun terakhir.
Meski tengah mengalami tren penurunan yang signifikan, Honda rupanya menolak menyerah begitu saja di pasar otomotif terbesar di dunia tersebut.
Melansir laporan CarsCoops pada Rabu (21/7), Honda justru memutuskan untuk memperpanjang kerja sama usaha patungannya dengan Guangzhou Automobile Group (GAC) selama 10 tahun ke depan.
Keputusan strategis ini diumumkan di tengah gempuran persaingan yang semakin ketat, terutama dari para produsen kendaraan listrik (EV) lokal China.
Para pesaing domestik ini gencar menawarkan produk berteknologi canggih dengan harga jual yang jauh lebih kompetitif dibandingkan merek global.
Baca Juga: Kemlu Turun Tangan Usut Femas, WNI Asal Madiun yang Kabur dari Rombongan Tur di Korea
Honda-GAC Lanjutkan Kolaborasi hingga 2038
Perpanjangan kemitraan ini memastikan bahwa kolaborasi antara Honda dan GAC yang telah dirintis sejak tahun 1999 silam akan terus berlanjut hingga tahun 2038 mendatang.
Selama lebih dari dua dekade menjalin kerja sama, duo perusahaan ini tercatat telah memproduksi sekaligus menjual lebih dari 11 juta unit kendaraan di wilayah China.
Namun, torehan sejarah tersebut kini dibayangi oleh tren penurunan penjualan yang cukup mengkhawatirkan.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2020 lalu, Honda masih mampu membukukan penjualan yang impresif, yakni mencapai angka 1,62 juta unit di China melalui dua perusahaan patungannya, GAC Honda dan Dongfeng Honda.
Sayangnya, sepanjang tahun 2025 lalu, angka penjualan tersebut anjlok drastis menjadi hanya sekitar 640 ribu unit saja. Dari jumlah tersebut, GAC Honda menyumbang sekitar 340 ribu unit, sementara sisanya ditopang oleh Dongfeng Honda.
Juru bicara Honda menegaskan bahwa keputusan untuk memperpanjang kerja sama ini diambil secara matang setelah mempertimbangkan dinamika serta perubahan pergeseran tren yang sangat cepat di industri otomotif China.
Baca Juga: Sidang Gugatan PT Java Fortis: Ahli Sebut Biaya Perantara Pengadaan Tanah Tak Masuk Akal
Strategi Melawan Merek Lokal
Penurunan drastis yang dialami Honda menjadi cerminan nyata dari perubahan preferensi konsumen lokal yang kini semakin menggilai merek-merek domestik.
Produsen lokal dinilai sangat berhasil memanjakan pasar dengan menghadirkan kendaraan listrik berfitur modern dan teknologi mutakhir yang ramah di kantong.
Sebagai langkah responsif, Honda sebenarnya tidak tinggal diam. Mereka telah meluncurkan lini kendaraan listrik yang dirancang khusus untuk pasar China pada tahun 2024 lalu melalui seri Ye.
Lini produk tersebut mencakup kehadiran model P7 yang diproduksi bersama GAC, serta model S7 yang digarap bersama Dongfeng.
Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kedua model andalan tersebut masih belum mampu memikat minat konsumen dalam jumlah yang masif.
Kondisi ini membuktikan bahwa tugas berat Honda saat ini bukan sekadar mengamankan kehadiran merek di China. Mereka dituntut untuk mampu menciptakan produk yang benar-benar bisa menyaingi hegemoni merek lokal di segmen kendaraan listrik. (naz)
Editor : Mizan Ahsani