Jawa Pos Radar Madiun - Situasi keamanan di Meksiko semakin mengkhawatirkan. Kartel narkoba tidak hanya menguasai wilayah-wilayah tertentu, tetapi kini juga menginvasi fasilitas kesehatan.
Sejumlah rumah sakit di berbagai negara bagian dilaporkan dikuasai kelompok kejahatan terorganisir, bahkan memaksa dokter dan tenaga medis merawat para anggota kartel bersenjata.
Seorang dokter yang bekerja di pusat kesehatan di Guanajuato, Meksiko tengah, mengungkap bagaimana ia diancam melalui telepon agar bersedia merawat anggota kartel yang terluka.
“Mereka bilang: ‘Kami hanya beberapa meter dari rumahmu. Kalau kamu tidak rawat dia, kami akan datang menjemput,’” kata dokter tersebut kepada Noticias Telemundo, meminta namanya dirahasiakan karena alasan keamanan.
Menurut laporan NBC News, pengaruh kartel tak hanya di jalur distribusi narkoba, tapi juga merambah pusat-pusat medis.
Beberapa ruang gawat darurat bahkan dijadikan basis sementara oleh kelompok kriminal.
Dalam banyak kasus, rumah sakit menjadi tempat kartel menyandera tenaga medis guna menyelamatkan pembunuh bayaran yang terluka dalam perang antarkelompok.
Salah satu kasus ekstrem terjadi saat dokter dihubungi langsung oleh seorang bos kartel lokal dan diperintahkan menangani luka tembak.
“Mereka datang ke pintu rumah sakit dengan senjata laras panjang dan menuntut perawatan segera,” ucapnya.
Kartel Generasi Baru Jalisco bahkan dikabarkan menggunakan alat-alat medis rumah sakit untuk merawat anggotanya secara paksa.
Kondisi ini, menurut Badan Pengawasan Narkotika Internasional PBB, menunjukkan betapa kuat dan terorganisirnya kartel narkoba di Meksiko.
Guadalupe Correa-Cabrera dari Universitas George Mason mengatakan bahwa negara kehilangan kendali atas beberapa wilayah karena korupsi dan lemahnya penegakan hukum.
“Mereka tak hanya mengontrol perdagangan narkoba, tapi juga kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya.
Meski pemerintah mengklaim penurunan angka pembunuhan hingga 32,9 persen dari September 2024 hingga April 2025 (turun dari 86,9 korban per hari menjadi 58,3), angka orang hilang justru melonjak.
Dalam 100 hari pertama pemerintahan Presiden Claudia Sheinbaum, tercatat 4.010 orang hilang, rata-rata 40 kasus per hari, meningkat drastis dari rata-rata 25 orang per hari pada periode sebelumnya.
Analis keamanan David Saucedo menyebut bahwa angka pembunuhan menurun bukan karena kekerasan berkurang, tetapi karena jenazah para korban disembunyikan.
“Mayat-mayat dikubur di lokasi tersembunyi, yang disebut narco-graves,” ungkapnya. “Mereka menghilangkan jejak agar seolah-olah tak ada korban.”
Fenomena penguasaan fasilitas medis oleh kartel ini menjadi alarm bahaya serius bagi pemerintah dan masyarakat internasional.
Penegakan hukum yang tegas dan perlindungan terhadap tenaga medis menjadi tuntutan utama, mengingat rumah sakit seharusnya menjadi tempat perlindungan, bukan medan perang kartel narkoba. (aan/naz)
Editor : Mizan Ahsani